KALIMANTAN TENGAH — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan mencatat banjir merata di Kecamatan Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Utara, dan Sebatik Timur. Puluhan hektar sawah produktif warga terendam, dan sejumlah peralatan elektronik milik kantor desa rusak akibat korsleting listrik.
"Total lebih dari 200 rumah, termasuk fasilitas ibadah dan kantor pemerintahan desa terdampak banjir," ujar Kasubid Penyelamatan BPBD Nunukan, Hasanuddin, saat dikonfirmasi, Senin malam.
Tiga Desa di Sebatik Tengah Paling Parah, Satu Kantor Desa Lumpuh
Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, melaporkan tiga desa di wilayahnya terendam cukup parah: Desa Bukit Harapan, Desa Aji Kuning, dan Desa Sei Limau. Di Kantor Desa Aji Kuning, dua unit komputer jenis CPU rusak akibat korsleting setelah terendam air.
"Jadi di kantor desa ada dua jenis komputer, yang pakai CPU dan yang langsung include dengan monitor. Yang pakai CPU yang korslet karena terendam banjir," tutur Aris.
Untuk menjaga pelayanan publik tetap berjalan, Aris menginstruksikan petugas pamong desa memindahkan operasional ke ruang kelembagaan. Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan surat pengantar dinas sementara diketik ulang secara manual. "Untuk CPU yang korslet, kita lakukan perbaikan, kita keringkan dulu semua dengan hair dryer. Tapi semua pelayanan lancar, Alhamdulillah," katanya.
Rumah Merah Putih: Ruang Tamu di RI, Dapur di Malaysia Ikut Terendam
Di Desa Aji Kuning yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia, banjir merendam destinasi wisata ikonik Rumah Merah Putih. Bangunan ini memiliki keunikan geografis langka: ruang tamu berada di dalam wilayah kedaulatan Indonesia, sedangkan dapurnya terletak di wilayah Malaysia.
Air luapan sungai juga merendam area sekitar rumah tersebut, meskipun belum ada laporan kerusakan struktural pada bangunan ikonik itu.
Proyek Normalisasi Sungai Terkendala Penolakan Warga, Embung Lapri Jadi Sorotan
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan anggaran untuk mengantisipasi banjir tahunan di Aji Kuning melalui normalisasi sungai. Skemanya adalah meluruskan jalur sungai yang berkelok-kelok agar air surut lebih cepat.
"Sebenarnya sudah ada upaya dan anggaran untuk antisipasi banjir di Aji Kuning. Jalur sungai yang berkelok dibuat lurus. Jadi meskipun masih terjadi banjir, waktu surutnya jauh lebih cepat," kata Aris.
Namun, proyek itu mandek akibat benturan sosial. "Kendalanya, itu akan memerlukan pembebasan banyak lahan kebun sawit warga. Dan saat kita sampaikan, terjadi penolakan," ungkap Aris.
Selain masalah sungai, Embung Lapri di Sebatik Tengah menjadi sorotan warga. Sekitar 69 hektar lahan milik masyarakat di sekitar embung selalu terendam setiap kali volume tampungan meluap. Pemerintah Daerah Nunukan telah meminta petugas teknis membuka pintu pembuangan embung agar luapan air tidak memperparah rendaman di lahan pertanian.
Aris menambahkan, intensitas banjir kali ini merupakan yang terparah dalam tujuh tahun terakhir. "Banjir kali ini menjadi banjir terbesar setelah 2019 lalu. Alhamdulillahnya, air langsung surut dan kita imbau masyarakat selalu waspada, terlebih di musim hujan saat ini," katanya.