SAMPIT — Ratusan petani di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit mulai was-was. Mereka bergantung pada irigasi teknis dan tadah hujan untuk mengairi sawah seluas lebih dari 1.200 hektare. Jika kemarau panjang benar terjadi, risiko puso atau gagal panen mengintai.
Embung dan Pompa Air Jadi Andalan
DPKP Kotim mengerahkan sejumlah alat berat untuk membersihkan saluran irigasi tersier yang mulai dangkal. Di Desa Samuda Besar, petugas juga mengoperasikan pompa air berkapasitas besar untuk menyedot air dari sungai ke saluran sekunder.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DPKP Kotim, Hendra Gunawan, mengatakan pihaknya telah menyiagakan 12 unit pompa air mobile. "Pompa ini bisa dipindahkan sesuai kebutuhan di titik-titik rawan kekeringan," ujarnya kepada wartawan di Sampit, Senin lalu.
Musim Kemarau Diprediksi Tiba Lebih Awal
BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit sebelumnya mengeluarkan peringatan dini. Musim kemarau di wilayah Kalteng diprediksi mulai pertengahan April hingga Mei 2026, lebih awal dari pola normal yang biasanya Juni. Intensitas hari tanpa hujan diperkirakan bisa mencapai 20-30 hari berturut-turut.
Kondisi ini membuat petani di beberapa desa mulai menunda masa tanam. Mereka khawatir bibit padi yang baru disemai akan mati jika air irigasi tidak mencukupi.
Langkah Darurat: Normalisasi Sungai Kecil
Selain pompa, DPKP Kotim juga mulai menormalisasi tiga sungai kecil di Kecamatan Parenggean dan Antang Kalang. Sungai-sungai ini selama ini menjadi sumber air utama bagi lahan perkebunan dan sawah tadah hujan.
Normalisasi dilakukan dengan pengerukan sedimentasi dan pembersihan eceng gondok yang menyumbat aliran. Targetnya, debit air bisa meningkat 30 persen sebelum kemarau puncak tiba.
Petani Minta Tambahan Bantuan
Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Ahmad Yani, mengaku belum mendapat sosialisasi jadwal pompa bergilir. "Kami minta jadwal yang jelas. Jangan sampai pompa datang saat sawah sudah kering," katanya.
Ia juga berharap pemerintah daerah menganggarkan dana untuk pembangunan embung baru di desanya. Saat ini, desa hanya memiliki satu embung kecil yang volumenya menyusut drastis saat kemarau.
Apa Langkah Selanjutnya?
DPKP Kotim berencana menggelar rapat koordinasi dengan Perumda Air Minum dan BPBD pekan depan. Salah satu agendanya adalah menyusun skema prioritas alokasi air untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga.
Kepala DPKP Kotim, Muhammad Irfansyah, mengatakan pihaknya juga akan mengajukan usulan tambahan anggaran ke APBD Perubahan 2026. "Kami butuh setidaknya 10 unit pompa baru dan perbaikan 5 pintu air yang rusak," jelasnya.