KALIMANTAN TENGAH — Jakarta — Holding BUMN Industri Tambang (MIND ID) mematangkan persiapan IPO anak usaha yang bergerak di sektor mineral. Target dana segar yang dibidik mencapai Rp 10 triliun, menjadikannya salah satu IPO BUMN terbesar tahun ini. Direktur Utama MIND ID, Hendi Prio Santoso, menyatakan proses due diligence telah rampung dan tinggal menunggu persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dana Segar untuk Smelter dan Akuisisi Tambang
Rencana IPO ini bukan sekadar mencari pendanaan. MIND ID akan menggunakan dana segar tersebut untuk proyek prioritas nasional. Sekitar 60 persen dari total dana akan dialokasikan untuk pembangunan dua smelter nikel dan tembaga di Sulawesi dan Maluku. Sisanya, 40 persen, akan digunakan untuk akuisisi tambang emas dan bauksit di Afrika dan Amerika Selatan.
“Kami ingin memastikan hilirisasi mineral kritis berjalan cepat. IPO ini adalah katalis untuk memperkuat rantai pasok global,” ujar Hendi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (14/2).
Anak Usaha dengan Cadangan Mineral Terbesar
Anak usaha yang akan melantai di bursa itu memiliki cadangan mineral kritis terbesar di Indonesia. Data internal MIND ID menunjukkan entitas ini menguasai cadangan nikel laterit setara 2,1 miliar ton, tembaga 1,8 miliar ton, dan emas 6.000 ton. Potensi ini menjadikannya primadona bagi investor institusi domestik maupun asing.
Analis PT BRI Danareksa Sekuritas, Erwin Haryono, menilai valuasi entitas ini bisa mencapai Rp 80 triliun pasca-IPO. “Mineral kritis seperti nikel dan tembaga sedang naik daun. Permintaan global dari industri baterai dan kendaraan listrik akan mendorong harga sahamnya,” jelas Erwin.
Fakta Singkat IPO BUMN Mineral
- Target dana segar: Rp 10 triliun
- Jadwal IPO: Kuartal III-2026
- Alokasi dana: 60 persen smelter, 40 persen akuisisi
- Cadangan mineral: nikel 2,1 miliar ton, tembaga 1,8 miliar ton, emas 6.000 ton
- Valuasi pasca-IPO: diperkirakan Rp 80 triliun
Dampak ke Masyarakat dan Pasar Modal
IPO ini tidak hanya berdampak pada korporasi. Masyarakat akan memperoleh kesempatan menjadi pemegang saham melalui skema penjatahan khusus untuk investor ritel. OJK mewajibkan BUMN mengalokasikan minimal 5 persen saham untuk investor individu.
“Ini momentum bagi investor ritel untuk ikut menikmati keuntungan hilirisasi mineral. Jangan lewatkan masa bookbuilding nanti,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman.
Di sisi lain, keberhasilan IPO ini akan menjadi tolok ukur kepercayaan pasar terhadap sektor mineral Indonesia. Jika target dana tercapai, MIND ID berpeluang menjadi holding BUMN tambang pertama yang berhasil menggalang dana triliunan rupiah dalam satu dekade terakhir.