SAMPIT — Warga Kotawaringin Timur mulai merasakan dampak langsung karhutla. Kabut tipis dan bau asap dilaporkan muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama menjelang pagi.
Seorang warga Sampit, Andi, mengatakan kondisi paling terasa terjadi pada dini hari hingga pukul 07.00 WIB. Pada jam tersebut, bau asap cukup menyengat dan kabut tampak menggantung di udara.
“Kalau subuh sampai sekitar jam enam pagi itu sudah mulai tercium bau asap. Kabutnya juga terlihat cukup tebal, jarak pandang sudah mulai tertutup,” ujarnya kepada awak media, Minggu (19/7).
Warga Khawatir Kondisi Memburuk, Minta Penanganan Dipercepat
Warga lainnya, Rina, menilai kemunculan kabut asap tidak terlepas dari semakin banyaknya titik kebakaran hutan dan lahan di Kotim. Ia berharap penanganan karhutla dapat dimaksimalkan agar kondisi tidak semakin parah.
“Karena karhutla sekarang makin sering terjadi, kabut asap juga mulai muncul. Mudah-mudahan kemarau juga segera berakhir,” katanya.
Rina juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan, mengingat risiko yang ditimbulkan tidak hanya pada lingkungan tetapi juga kesehatan warga.
Alat ISPU Rusak, Data Kualitas Udara Tak Tersedia
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa alat pemantau ISPU di wilayahnya saat ini masih mengalami gangguan. Alat tersebut milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim.
“Alat pendeteksi ISPU milik Kementerian yang dikelola DLH Kotim saat ini masih mengalami gangguan pada peralatannya,” kata Multazam.
Ia menjelaskan, alat ISPU sangat penting karena menjadi dasar pemerintah untuk menentukan langkah mitigasi, termasuk memberikan peringatan kepada masyarakat apabila kualitas udara memasuki kategori berbahaya. Tanpa data tersebut, pemerintah daerah kesulitan mengambil kebijakan responsif terhadap kabut asap.
Ancaman Partikel Halus PM2,5 dan PM10 Mengintai Warga
Multazam menegaskan bahwa ancaman utama karhutla bukan hanya api, melainkan partikel asap seperti PM2,5 dan PM10 yang berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Partikel halus ini dapat masuk ke paru-paru dan memicu gangguan pernapasan.
“Ancaman utama karhutla bukan hanya api, melainkan partikel asap seperti PM2,5 dan PM10 yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari DLH Kotim mengenai kapan alat ISPU tersebut akan diperbaiki atau diganti. Warga diimbau untuk sementara waktu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada pagi hari saat kabut asap terasa paling pekat.