PALANGKA RAYA — Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran secara resmi membuka rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), Kalteng Expo, dan Karnaval Budaya Tahun 2026. Acara yang berpusat di Bundaran Besar ini digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah, sekaligus menjadi motor pelestarian budaya dan penggerak ekonomi daerah.
Efisiensi Anggaran Tak Halangi Kemeriahan
Agustiar menegaskan bahwa kondisi efisiensi anggaran yang tengah dihadapi pemprov tidak menjadi alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Justru, ia mengklaim pengelolaan anggaran yang ketat membuat acara tahun ini lebih hidup.
“Contohnya kegiatan hari ini, untuk menghibur masyarakat tidak perlu menghabiskan lebih dari miliaran rupiah, tetapi lebih meriah daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata Gubernur dalam sambutannya.
Ia menambahkan, hal ini menjadi bukti bahwa manajemen yang baik dan terukur mampu mengoptimalkan anggaran untuk kepentingan publik tanpa harus mengorbankan esensi acara.
APBD Menurun, Fokus pada Program Unggulan
Agustiar mengakui bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Tengah Tahun 2026 mengalami penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, ia memastikan sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, olahraga, serta seni dan budaya tetap menjadi prioritas.
“Pelayanan masyarakat adalah prioritas kami. Pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kegiatan olahraga, budaya dan seni serta sektor strategis lainnya justru kami tingkatkan kualitasnya dengan program-program unggulan seperti Kartu Huma Betang Sejahtera,” ujar Agustiar.
Program Kartu Huma Betang Sejahtera menjadi salah satu andalan pemprov untuk menjaga daya beli dan kesejahteraan warga di tengah tekanan fiskal. Pemerintah Provinsi berupaya agar setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
FBIM 2026: Antara Hiburan dan Dorongan Ekonomi
Festival Budaya Isen Mulang bukan sekadar ajang hiburan. Pemerintah daerah menempatkan event ini sebagai instrumen untuk memperkuat identitas budaya Dayak dan Kalimantan Tengah secara umum, sekaligus mendongkrak sektor pariwisata.
Dengan adanya Kalteng Expo yang berlangsung bersamaan, pelaku UMKM dan industri kreatif lokal mendapat ruang untuk mempromosikan produk mereka. Hal ini diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Gubernur menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk terus mengoptimalkan setiap agenda tahunan agar tetap memberikan dampak luas bagi warga, tanpa harus membebani APBD secara berlebihan.