Pencarian

Debit Air Sungai Hantipan Kotim Surut, Warga di Perbatasan Terpaksa Dorong Perahu demi Sampai ke Sampit

Rabu, 15 Juli 2026 • 12:43:01 WIB
Debit Air Sungai Hantipan Kotim Surut, Warga di Perbatasan Terpaksa Dorong Perahu demi Sampai ke Sampit
Debit air Sungai Hantipan di perbatasan Kotim surut, warga terpaksa mendorong perahu untuk mencapai Sampit.

SAMPIT — Anggota DPRD Kotim dari Dapil III, Eddy Mashamy, mendesak pemerintah pusat dan provinsi segera mengeruk Sungai Hantipan. Menurutnya, persoalan ini sudah terjadi setiap tahun dan kini diperparah oleh puncak kemarau yang diperkirakan berlangsung tiga bulan ke depan.

“Setiap musim kemarau debit air di Hantipan turun. Akibatnya arus mobilisasi masyarakat dari Mendawai menuju Samuda dan Sampit menjadi sulit,” kata Eddy di Sampit, Selasa.

Warga Terpaksa Dorong Perahu di Titik Dangkal

Eddy mengungkapkan, hingga 12 Juli 2026, wilayah Pulau Hanaut sudah sekitar 10 hari tanpa hujan. Permukaan air di alur Sungai Hantipan terus menurun drastis.

“Tidak sedikit penumpang yang terpaksa turun untuk bersama-sama mendorong kelotok, demi bisa melewati bagian sungai yang surut,” ujarnya.

Jalur ini menjadi pilihan utama warga dari Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, untuk berbelanja kebutuhan pokok di Sampit. Alternatif lain melalui Laut Jawa dinilai berisiko tinggi bagi perahu kecil, terutama saat angin kencang dan gelombang tinggi di musim kemarau.

Koordinasi Lintas Instansi Belum Membuahkan Hasil

Eddy mengaku persoalan ini sudah disampaikan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II, Dinas PUPR Provinsi, dan Dinas Perhubungan. Namun, karena lokasi sungai berada di perbatasan dua kabupaten, kewenangan pengerukan berada di tangan pemerintah provinsi.

“Sebagai wakil masyarakat Dapil III, ini menjadi kewajiban saya menyuarakan aspirasi warga. Kalau perlu lakukan rapat dengar pendapat dengan BWS dan PUPR agar ada solusi nyata,” tegasnya.

Ia juga telah berkoordinasi dengan Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah untuk mendorong Pemerintah Provinsi segera bertindak.

Solusi Jangka Pendek: Pengerukan dan Pelabuhan Apung

Eddy menilai solusi paling mendesak adalah pengerukan atau pendalaman alur Sungai Hantipan agar transportasi air kembali lancar. Ia juga meminta pemerintah mempertimbangkan penyediaan pelabuhan apung untuk mendukung aktivitas masyarakat.

“Kalau memang tersedia dana yang bisa digunakan, ya kenapa tidak segera bergerak. Yang penting ada tindakan cepat,” imbuhnya.

Ia menambahkan, jalur alternatif lain melalui Pagatan, Katingan Kuala, Tewang Kampung, hingga Kereng Pangi membutuhkan waktu tempuh sekitar lima jam dengan biaya lebih besar. Jalur itu pun mengombinasikan transportasi sungai dan darat.

“Kemarin saja saya menuju Desa Babirah Hilir lewat laut sudah ngeri-ngeri sedap. Jadi kalau musim kemarau seperti ini sebaiknya jangan coba-coba lewat Laut Jawa, apalagi bagi kelotok kecil,” demikian Eddy.

Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks