KALIMANTAN TENGAH — Tambang emas Pani di Gorontalo belum habis bicara. Setelah mengantongi sumber daya mineral 7 juta ounce emas dari area seluas 135 hektare, EMAS kini mengincar lapisan yang lebih dalam. Perusahaan resmi memulai program deep drilling atau pengeboran dalam sepanjang 3.600 meter pada Mei 2026.
Menggali di Bawah Area yang Sudah Diketahui
Program ini bukan sekadar rutinitas. Hasil eksplorasi sebelumnya menunjukkan indikasi mineralisasi emas masih berlanjut di luar batas pengeboran yang sudah dilakukan. Artinya, ada kemungkinan tubuh bijih emas di Pani lebih besar dari perkiraan awal.
Pada tahap awal, EMAS mengerahkan satu unit rig pengeboran di enam titik. Satu rig tambahan dijadwalkan mulai beroperasi bulan depan untuk mempercepat proses. Targetnya: mengumpulkan data geologi yang lebih komprehensif dari kedalaman yang belum tersentuh.
Presiden Direktur EMAS, Boyke Abidin, mengatakan dimulainya fase produksi di Pani memberi ruang bagi perusahaan untuk kembali menguji potensi di area yang lebih dalam. "Seiring dimulainya produksi di Pani, Perseroan kini berada dalam posisi yang lebih strategis untuk melanjutkan pengujian potensi mineralisasi pada area yang lebih dalam," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (31/5).
Boyke menambahkan, program ini dirancang fleksibel. Bila hasil awal positif, pengeboran bisa diperluas. "Program ini juga memiliki fleksibilitas untuk dikembangkan lebih lanjut apabila hasil pengeboran menunjukkan potensi yang positif," kata dia.
Lahan Raksasa, Peluang Masih Terbuka
Konsesi EMAS di Pani membentang seluas 14.670 hektare. Sumber daya 7 juta ounce yang sudah dihitung saat ini hanya berasal dari 135 hektare — kurang dari 1 persen dari total area. Manajemen menilai potensi penambahan sumber daya masih sangat besar.
Estimasi sumber daya mineral Pani saat ini mencapai 291,5 juta ton dengan kadar emas rata-rata 0,75 gram per ton. Angka ini menjadi fondasi utama pengembangan tambang emas skala besar yang tengah dibangun perusahaan.
Tambang Lain di Panggung: Kolokoa dan Lone Pine
EMAS tidak hanya fokus di Pani. Di prospek Kolokoa, perusahaan telah menyelesaikan pengeboran awal 54 lubang dengan total kedalaman 11.701,6 meter. Biaya eksplorasi di sana sekitar USD 2,4 juta — setara Rp 38,4 miliar (kurs Rp 16.000) — dalam waktu enam bulan.
Hasilnya, target eksplorasi Kolokoa ditetapkan pada kisaran 20 juta hingga 40 juta ton dengan kadar emas 0,3-0,5 gram per ton. Manajemen menargetkan pengumuman estimasi awal sumber daya mineral Kolokoa pada kuartal II 2026.
Selanjutnya, pada semester II 2026, giliran area Lone Pine yang akan dibor. Eksplorasi di sana akan didukung survei geofisika menggunakan teknologi Mobile Magnetotellurik dan survei magnetik udara berbasis helikopter. Survei udara itu dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026.
Seluruh hasil eksplorasi akan dilaporkan sesuai standar internasional, yakni JORC Code 2012 dan KCMI 2017, untuk menjaga transparansi pelaporan sumber daya mineral.