SAMPIT — Cahaya obor kembali menerangi jalan-jalan di Kecamatan Baamang pada malam takbiran Idul Adha. Tradisi yang digagas Kwartir Ranting (Kwaran) Gerakan Pramuka Baamang ini berhasil mengumpulkan 25 kelompok peserta yang berjalan kaki sambil membawa obor, tabuhan rebana, dan atribut bernuansa Islami.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Baamang, Yudi Aprianur, menyebut kegiatan ini bukan sekadar hiburan. “Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di Kecamatan Baamang, sebagai tradisi tahunan syiar Islam yang telah berlangsung selama 13 tahun berturut-turut,” ujarnya di Sampit, Selasa malam.
Mengapa Pawai Obor Tahun Ini Lebih Semarak?
Yudi menjelaskan bahwa kemeriahan tahun ini terasa lebih besar karena tingkat kabupaten tidak menggelar pawai takbiran keliling. Akibatnya, perhatian masyarakat terkonsentrasi penuh pada rute pawai di Baamang. “Perhatian masyarakat lebih terpusat pada kegiatan di Kecamatan Baamang,” kata Yudi.
Sepanjang jalur pawai, anak-anak hingga orang tua berdiri di tepi jalan. Banyak dari mereka mengabadikan momen menggunakan telepon genggam saat rombongan peserta melintas. Ketua Panitia Dadang Siswanto menilai antusiasme ini bukti nyata bahwa acara semacam ini terus ditunggu warga.
Kreativitas Peserta Jadi Penilaian Utama Lomba
Pawai obor tahun ini juga disertai perlombaan. Penilaian difokuskan pada kreativitas peserta dalam menampilkan tema dan atraksi selama pawai. Setiap tahun, menurut Yudi, selalu ada konsep baru yang ditampilkan, baik melalui kostum, dekorasi kendaraan, maupun maskot yang dibawa.
“Terbukti dari banyaknya masyarakat yang menonton kegiatan ini. Itu merupakan bentuk nyata bahwa acara semacam ini terus ditunggu oleh masyarakat Kecamatan Baamang,” ujar Dadang.
Kolaborasi Tiga Pilar dan Tantangan Ekonomi
Dadang menyebut kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kecamatan Baamang, Kwaran Gerakan Pramuka Baamang, serta aparat keamanan setempat. Kerja sama ini memastikan acara berjalan aman dan lancar setiap tahun.
Meski demikian, jumlah peserta tahun ini mengalami sedikit penurunan. Dadang memaklumi kondisi tersebut karena faktor ekonomi masyarakat yang sedang lesu. “Mungkin kondisi daya beli masyarakat sedang lesu. Sedangkan untuk mengikuti kegiatan ini tentu perlu dana untuk atribut, maskot dan semacamnya,” tuturnya.
Apa yang Diharapkan dari Tradisi Ini ke Depan?
Meskipun jumlah peserta berkurang, semangat dan kemeriahan pawai tidak surut. Yudi berharap kegiatan ini bisa kembali digelar tahun depan dengan partisipasi yang lebih besar. “Kami berharap tahun depan kegiatan ini bisa kembali digelar dan bisa lebih meriah,” pungkasnya.
Pawai obor di Baamang membuktikan bahwa tradisi lokal mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi. Selama 13 tahun, obor-obor itu terus menyala—menjadi penanda bahwa syiar Islam dan kebersamaan warga tidak padam oleh lesunya daya beli.