KALIMANTAN TENGAH — Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terdepresiasi hingga 6,25% terhadap greenback. Posisi ini mengukuhkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan pelemahan paling dalam. Kondisi serupa juga dialami mayoritas mata uang kawasan: won Korea Selatan melemah 0,74%, baht Thailand turun 0,18%, dan yen Jepang melemah 0,08%.
Sentimen Global dan Domestik yang Menekan Rupiah
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan ada dua faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Dari sisi eksternal, meredanya kekhawatiran perang setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran sempat memberi sedikit ruang napas bagi mata uang emerging market. Namun, tekanan dari penguatan dolar AS masih dominan.
"Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman. Ia menambahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung wait and see dalam mengambil posisi. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang tengah berlangsung menjadi fokus utama pasar.
BI Rate Jadi Penentu Arah Rupiah Selanjutnya
Pasar memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan dalam RDG hari ini sebagai langkah darurat menahan laju pelemahan rupiah. Keputusan ini dinilai krusial karena di tengah tekanan eksternal yang tinggi, instrumen suku bunga menjadi satu-satunya amunisi yang tersisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Namun, jika BI hanya mempertahankan suku bunga tanpa kenaikan yang agresif, bukan tidak mungkin rupiah kembali menembus level baru yang lebih dalam.
Apa Dampak Rupiah Melemah bagi Masyarakat dan Pelaku Bisnis?
Pelemahan rupiah ke level terendah sepanjang masa ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama terhadap barang impor. Harga produk elektronik, bahan baku industri, hingga obat-obatan yang bergantung pada pasokan luar negeri berpotensi naik dalam waktu dekat.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, beban pembayaran semakin berat. Sementara itu, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi jika dikonversi ke rupiah. Namun, keuntungan ini bisa tergerus jika biaya impor bahan baku ikut melonjak.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar yang volatil membutuhkan strategi lindung nilai (hedging) yang disiplin, terutama bagi perusahaan dengan eksposur valas yang besar.