Pencarian

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah di Level Rp17.614, Pengamat Ungkap 3 Faktor Utama Pemicu Tekanan Global

Jumat, 15 Mei 2026 • 15:50:14 WIB
Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah di Level Rp17.614, Pengamat Ungkap 3 Faktor Utama Pemicu Tekanan Global
Rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah di Rp17.614 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5).

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali terjerembap ke zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5). Mata uang Garuda dibuka melemah 84 poin atau merosot 0,48 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, hingga menyentuh angka Rp17.614 per dolar AS. Posisi ini menjadi titik terlemah yang pernah dialami rupiah dalam sejarah nilai tukar di tanah air.

Momen Paling Kelam dalam Sejarah Nilai Tukar

Keterpurukan rupiah kali ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengonfirmasi bahwa angka tersebut adalah rekor pelemahan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tekanan yang datang secara bertubi-tubi dari pasar global membuat rupiah kehilangan taringnya di hadapan greenback.

"Iya, level terendah sepanjang sejarah," kata Ariston saat menjelaskan situasi pasar yang kian dinamis.

Pelemahan ini terasa menyesakkan karena terjadi di tengah upaya pemulihan ekonomi domestik. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi ketidakpastian yang lebih panjang, mengingat belum ada tanda-tanda dolar AS akan melandai dalam waktu dekat.

Badai dari Timur Tengah dan Ketangguhan Ekonomi Paman Sam

Ada alasan kuat mengapa dolar AS begitu perkasa saat ini. Ariston menjelaskan bahwa gejolak di Timur Tengah yang tak kunjung mereda telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini secara otomatis memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman (safe haven) bagi para investor global.

Selain faktor geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat ternyata jauh lebih solid dari perkiraan semula. Penjualan ritel di AS menunjukkan kenaikan yang signifikan, yang kemudian mempertebal keyakinan pasar bahwa ekonomi mereka masih sangat kuat. Kondisi ini membuat Bank Sentral AS, The Fed, diprediksi tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga acuan tahun ini.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga ikut memperkeruh suasana. Inflasi di Negeri Paman Sam yang lebih panas dari prediksi pasar membuat prospek kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka lebar, sehingga aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi sulit dihindari.

Menanti Hasil Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump

Di tengah badai pelemahan ini, pelaku pasar sebenarnya sempat menyimpan sedikit optimisme terkait diplomasi dua kekuatan ekonomi besar dunia. Analis pasar uang Lukman Leong menyoroti adanya harapan dari pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.

"Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme investor terhadap pertemuan Xi dan Trump, meskipun pertemuan masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi terkait hasil pertemuan tersebut," ujar Lukman.

Meski ada optimisme, kenyataan di lapangan menunjukkan rupiah tetap tertekan karena hasil resmi pembicaraan kedua pemimpin tersebut belum diumumkan ke publik. Investor cenderung bersikap hati-hati dan lebih memilih memegang dolar AS sebagai langkah antisipasi.

Nasib Serupa Menimpa Mata Uang Asia dan Negara Maju

Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi tekanan ini. Hampir seluruh mata uang di kawasan Asia ikut rontok dihantam keperkasaan dolar. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,39 persen, serta baht Thailand dan yen Jepang yang masing-masing terkoreksi 0,28 persen dan 0,11 persen.

Bahkan, mata uang negara-negara maju pun tak kuasa melawan arus. Poundsterling Inggris, dolar Australia, hingga Euro Eropa semuanya kompak memerah. Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS terjadi secara merata dan masif di seluruh dunia, memaksa bank sentral di berbagai negara untuk bekerja ekstra keras menjaga stabilitas nilai tukar mereka.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks