KALIMANTAN TENGAH — Tekanan terhadap rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri. Data dari Bloomberg menunjukkan sebagian besar mata uang Asia juga terdepresiasi terhadap greenback. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,38 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,05 persen, dan yen Jepang yang melemah 0,03 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia justru mampu terapresiasi 0,31 persen, menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mencatatkan penguatan signifikan.
Biang Kerok di Balik Penguatan Dolar
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa sentimen negatif berasal dari data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Inflasi inti PCE, yang menjadi acuan utama The Fed, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. "Data ini menunjukkan tekanan harga di AS masih sangat sticky," ujar Lukman.
Ditambah lagi, pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed pekan ini semakin mengonfirmasi bahwa bank sentral AS belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Kombinasi data panas dan sikap agresif The Fed ini membuat dolar AS kembali perkasa di hadapan hampir semua mata uang global, termasuk rupiah.
Level Kritis yang Diwaspadai Pelaku Pasar
Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berada di rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 menjadi garis pertahanan krusial. Jika tembus, bukan tidak mungkin tekanan jual terhadap rupiah akan semakin deras.
Bagi investor dan pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, volatilitas ini menjadi sinyal untuk lebih agresif melakukan lindung nilai atau hedging. Sebaliknya, bagi eksportir, pelemahan rupiah memberikan angin segar karena nilai penerimaan dalam mata uang lokal menjadi lebih tinggi.
Apa yang Bisa Dilakukan BI?
Pasar kini menanti langkah Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan kurs. Intervensi ganda—baik di pasar spot (valas) maupun melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder—biasanya menjadi jurus andalan. Namun, efektivitas intervensi ini sangat tergantung pada seberapa kuat tekanan eksternal dari penguatan dolar AS. Sepanjang data ekonomi AS masih menunjukkan kekuatan, rupiah diperkirakan akan terus berada dalam tekanan.
Investasi mengandung risiko.