KALIMANTAN TENGAH — Peningkatan jumlah kendaraan roda dua di Indonesia selalu dibarengi dengan efek samping, salah satunya peredaran suku cadang palsu di pasaran. Komponen seperti busi menjadi sasaran empuk pemalsuan karena harganya yang relatif terjangkau tapi permintaannya tinggi. Kepala Bengkel maupun pemilik motor yang tidak jeli bisa terjebak membeli produk tiruan yang kualitasnya jauh di bawah standar pabrikan.
Kerugian akibat memakai busi palsu tidak hanya soal uang yang terbuang, tetapi juga kinerja mesin yang menurun drastis. Pengapian yang tidak stabil, konsumsi bahan bakar membengkak, hingga kerusakan komponen lain bisa muncul akibat penggunaan busi abal-abal. Pada tahap yang lebih parah, mesin bisa mengalami knocking atau mogok di tengah jalan.
Beda Busi Asli dan Palsu Bisa Terlihat dari Fisiknya
Sebenarnya, membedakan busi original dengan tiruan tidak membutuhkan alat khusus. Cukup teliti melihat detail-detail kecil pada bagian fisik komponen sebelum memutuskan membeli. Berikut poin-poin yang wajib diperhatikan.
Cetakan Kode Produksi dan Warna Keramik Isolator
Perhatikan bagian kepala busi yang biasanya terdapat kode produksi. Pada produk asli, cetakan kode ini dibuat dengan mesin presisi sehingga hasilnya rapi, simetris, dan mudah terbaca. Sebaliknya, busi palsu sering kali menampilkan cetakan yang buram dan tidak presisi.
Bagian keramik isolator juga bisa menjadi petunjuk. Busi original memiliki warna keramik yang cenderung natural atau tidak terlalu mengkilap. Sedangkan produk tiruan biasanya menampilkan warna putih yang terlalu terang dan terlihat tidak alami, seperti dilapisi cat.
Ulir Drat, Elektroda, dan Gasket Mengungkap Kualitas Pengerjaan
Ulir atau drat pada busi asli dikerjakan dengan tingkat presisi tinggi, sehingga terasa halus saat disentuh dan rapi saat dilihat. Untuk memastikannya, minta penjual mengeluarkan beberapa unit dari dus yang berbeda lalu bandingkan kerapian ulirnya satu sama lain.
Bagian elektroda pada busi original dipasang dengan presisi ketat agar percikan api yang dihasilkan stabil. Pada produk palsu, posisi elektroda sering terlihat miring, tidak konsisten antarunit, atau bahkan memiliki celah yang kasar. Gasket atau cincin kuningan pada busi asli terpasang kuat dan permukaannya halus, sementara pada busi tiruan gasket biasanya longgar dan mudah terlepas.
Plating Metal Shell Rentan Berkarat Sejak Awal
Material baja pada body busi original menggunakan proses plating berkualitas sehingga tahan terhadap korosi. Pada busi palsu, material yang dipakai lebih murah dan mudah berkarat. Bahkan, bintik-bintik karat kecil sudah bisa terlihat saat produk baru saja dikeluarkan dari kemasannya.
Untuk menghindari risiko ini, selalu beli suku cadang di bengkel resmi atau dealer terpercaya. Harga busi original memang lebih mahal, tetapi biaya perbaikan mesin akibat komponen palsu jauh lebih besar. Seperti mengutip keterangan resmi Suzuki, Selasa (1/9), pembelian dan perawatan di bengkel resmi menjadi cara paling aman untuk menjaga performa mesin serta menjamin keaslian setiap komponen.