Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai mengancam produksi pertanian hortikultura seperti cabai, tomat, dan aneka sayuran. Sekretaris Komisi II DPRD setempat, Muhammad Kurniawan Anwar, mendesak pemkab segera mendata lahan terdampak agar intervensi pemulihan bisa tepat sasaran.
SAMPIT — Dampak kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur tidak berhenti pada kabut asap dan gangguan kesehatan. Sekretaris Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Muhammad Kurniawan Anwar, menyoroti ancaman yang kini membayangi petani hortikultura, yakni hilangnya tanaman sekaligus modal usaha dalam waktu singkat.
"Ketika api merembet dan tanaman petani ikut terbakar, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi sumber penghasilan dan modal mereka," kata Kurniawan di Sampit, Selasa.
Cabai dan Tomat Paling Rentan Terbakar
Komoditas seperti cabai, tomat, dan berbagai jenis sayuran memiliki tingkat kerentanan tinggi saat kebakaran melanda. Tanaman yang sudah dirawat berminggu-minggu hingga berbulan-bulan bisa rusak seketika ketika api merambat ke lahan produktif.
Tekanan bertambah karena karhutla terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Ketersediaan air terbatas, sementara tanaman hortikultura membutuhkan pasokan air yang relatif teratur untuk tumbuh optimal.
Petani Kehilangan Lebih dari Sekadar Hasil Panen
Kurniawan menegaskan kerugian petani tidak hanya berupa gagal panen. Biaya yang sudah dikeluarkan untuk benih, pupuk, pestisida, dan upah tenaga ikut melayang sia-sia.
"Kalau petani sudah mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, pestisida dan tenaga, kemudian tanaman rusak atau gagal panen karena kebakaran dan kekeringan, kerugiannya tentu sangat terasa," ujarnya.
Data Luas Lahan Terdampak Jadi Kunci Penanganan
Legislator dari Partai Amanat Nasional itu mendorong perangkat daerah melakukan pendataan menyeluruh. Cakupannya meliputi luas lahan hortikultura yang terbakar, jenis komoditas, tingkat kerusakan, serta jumlah petani yang kehilangan tanaman dan pendapatan.
"Datanya harus jelas. Dari situ pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi yang tepat. Jangan sampai setelah api padam dan musim kemarau berlalu, petani hortikultura yang kehilangan tanaman dan modal justru dibiarkan memulai kembali sendirian," tegas Kurniawan.
Menurutnya, perhitungan dampak secara konkret menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan penanganan dan pemulihan.
Pemulihan Tidak Berhenti Saat Api Padam
Kurniawan menilai penanganan karhutla seharusnya tidak berakhir ketika titik api berhasil dipadamkan. Pemerintah perlu memastikan petani memiliki kemampuan untuk kembali berproduksi setelah kondisi mulai pulih.
Dukungan bisa diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan benih dan sarana produksi, penyediaan akses air, bantuan peralatan penyiraman, hingga pendampingan teknis untuk memulihkan lahan dan kegiatan usaha.
Gangguan produksi hortikultura disebutnya berpotensi memicu dampak lebih luas bagi masyarakat, terutama berkaitan dengan ketersediaan komoditas pangan dan pergerakan harga di pasar.
"Penanganan karhutla harus dilihat secara menyeluruh. Kita selamatkan kesehatan masyarakat dan padamkan apinya, tetapi ekonomi petani hortikultura dan keberlanjutan produksi pangan juga harus dijaga," demikian Kurniawan.