SAMPIT — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan membentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Rencana ini disepakati dalam audiensi antara Pemerintah Kabupaten Kotim dan delegasi KLH beberapa waktu lalu.
Mengapa Brigdalkarhutla Dibentuk di Kotim?
Kotawaringin Timur menjadi salah satu daerah prioritas karena tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan setiap tahun. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, pada 2023 lalu, luas lahan yang terbakar di Kotim mencapai ribuan hektare. Kabut asap yang ditimbulkan kerap mengganggu aktivitas warga dan penerbangan di Bandara H. Asan Sampit.
Pembentukan Brigdalkarhutla diharapkan menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan pemadaman api di tingkat lapangan. Tim ini akan dilengkapi peralatan pemadam dan pelatihan khusus, berbeda dengan satgas musiman yang selama ini ada.
Proses Pembentukan dan Target Operasi
Dalam audiensi tersebut, delegasi KLH memaparkan bahwa pembentukan brigdalkarhutla akan melibatkan personel dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan masyarakat peduli api. Proses rekrutmen dan pelatihan direncanakan dimulai pada triwulan pertama tahun ini.
Target utama brigdalkarhutla adalah melakukan patroli terpadu di titik-titik rawan karhutla, terutama di kawasan gambut yang mudah terbakar. Selain itu, tim ini juga akan bertugas melakukan sosialisasi kepada petani agar tidak membakar lahan saat membuka ladang.
Apa Langkah Selanjutnya?
Pemerintah Kabupaten Kotim, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), akan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, termasuk posko induk dan armada pemadam. Kepala DLH Kotim menyebut pihaknya juga akan mengalokasikan dana hibah untuk operasional brigdalkarhutla dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.
“Kami siap mendukung penuh. Dengan adanya brigdalkarhutla, penanganan karhutla di Kotim tidak lagi reaktif, tapi preventif dan terstruktur,” ujar Kepala DLH Kotim dalam pertemuan tersebut.
Dampak bagi Warga Kotim
Masyarakat di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, yang selama ini menjadi langganan kabut asap, menyambut positif rencana ini. Mereka berharap brigdalkarhutla bisa bekerja maksimal sehingga musim kemarau tidak lagi membawa bencana kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas sekolah.
Dengan pembentukan brigdalkarhutla, Kotim menjadi salah satu kabupaten pertama di Kalimantan Tengah yang memiliki satuan khusus pengendali karhutla bentukan pusat. Langkah ini diharapkan bisa menjadi model bagi daerah rawan karhutla lainnya di Indonesia.