SAMPIT — Para petani di kawasan selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai merasakan dampak serius dari krisis bahan bakar minyak (BBM). Kelangkaan solar dan bensin dalam beberapa pekan terakhir membuat aktivitas di sawah, khususnya pengairan dan pengolahan lahan, terhambat.
Di Kecamatan Parenggean dan Mentaya Hulu, yang dikenal sebagai lumbung padi daerah, banyak petani terpaksa mengurangi jam operasional mesin pompa air. Akibatnya, ribuan hektare sawah tadah hujan terancam kekeringan di musim tanam ini.
Mengapa BBM Jadi Biang Kerok Produksi Pangan?
Mesin pompa air dan traktor merupakan alat vital bagi petani di wilayah tersebut. Tanpa solar, air dari sungai tidak bisa dialirkan ke sawah yang mulai mengering. "Kami sudah tiga hari tidak bisa nyala, antre solar di SPBU habis terus," ujar seorang petani di Parenggean, pekan lalu.
Kondisi ini kontras dengan target ambisius pemerintah pusat yang menargetkan Kalimantan Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Program cetak sawah baru dan intensifikasi pertanian justru terganjal masalah distribusi energi di tingkat hilir.
Dampak Langsung: Produksi Bisa Anjlok Puluhan Persen
Jika kelangkaan berlanjut hingga masa tanam puncak, produktivitas padi di selatan Kotawaringin Timur diprediksi turun drastis. Para petani memperkirakan hasil panen bisa berkurang hingga 30 persen dari potensi normal.
Beberapa di antaranya bahkan memilih menunda masa tanam, berharap pasokan BBM segera normal. Penundaan ini berisiko menggeser jadwal panen dan meningkatkan risiko gagal panen akibat perubahan cuaca.
Langkah Pemkot: Antrean dan Solusi Sementara
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Pertanian dan Perdagangan telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menambah kuota BBM bersubsidi ke wilayah selatan. Namun, hingga saat ini, distribusi dinilai belum merata.
SPBU di jalur utama Sampit-Parenggean masih menjadi titik antrean panjang kendaraan, baik untuk kebutuhan pertanian maupun transportasi umum. Belum ada kepastian kapan pasokan akan kembali normal sepenuhnya.
Para petani berharap ada solusi cepat, seperti pembukaan posko BBM khusus petani atau penyaluran solar bersubsidi langsung ke kelompok tani. Tanpa intervensi, target produksi pangan daerah di ujung tanduk.