Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di Kota Palangka Raya harus dimulai dari penguatan ketahanan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Langkah ini dinilai krusial untuk membentengi generasi muda dari dampak dinamika sosial yang kian kompleks. Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M Norkim, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa fondasi moral yang kokoh.
Kualitas generasi masa depan Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya, sangat bergantung pada pola asuh dan penanaman nilai di tingkat rumah tangga. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan institusi pendidikan paling awal yang menentukan arah perkembangan mental dan karakter anak.
Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M Norkim, menyoroti bahwa di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial saat ini, peran orang tua menjadi filter utama. Menurutnya, tanpa fondasi keluarga yang kuat, intervensi pendidikan formal di sekolah tidak akan berjalan maksimal dalam mencetak individu yang berintegritas.
Mengapa Keluarga Disebut Sekolah Pertama Bagi Generasi Muda?
Arif menjelaskan bahwa lingkungan keluarga merupakan tempat pertama di mana nilai-nilai dasar, etika, dan cara pandang dibentuk sebelum anak bersentuhan dengan dunia luar. Penanaman nilai positif sejak dini menjadi modal utama bagi anak untuk menghadapi tantangan pergaulan yang semakin dinamis.
"Keluarga adalah sekolah pertama bagi generasi bangsa. Di sanalah nilai, karakter, dan pola pikir dibentuk," ujar Arif di Palangka Raya, Selasa (5/5).
Ia menambahkan, ketahanan keluarga yang keropos berisiko melahirkan generasi yang rentan terhadap pengaruh negatif lingkungan. Oleh karena itu, penguatan fungsi keluarga harus menjadi agenda prioritas, baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.
Keseimbangan Kecerdasan Intelektual dan Kekuatan Mental Anak
Dalam pandangan legislatif, orientasi pembangunan SDM selama ini sering kali terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik semata. Arif menekankan bahwa standar keunggulan seorang individu harus mencakup aspek moral dan kekuatan mental agar mampu bersaing secara sehat di masa depan.
“Pembangunan SDM harus seimbang antara kecerdasan intelektual dan kekuatan mental serta moral. Ini penting agar generasi kita tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan mampu bersaing,” jelasnya.
Integritas tinggi dinilai sebagai pembeda utama di dunia kerja dan sosial. Tanpa kekuatan moral, kecerdasan intelektual dikhawatirkan justru akan disalahgunakan, yang pada akhirnya merugikan kemajuan daerah.
Tantangan Sosial Modern dan Peran Aktif Seluruh Elemen Masyarakat
Menghadapi era modern, tantangan yang dihadapi keluarga kini jauh lebih berat dibandingkan dekade sebelumnya. Pengaruh teknologi digital dan perubahan gaya hidup menuntut keterlibatan kolektif dari seluruh elemen masyarakat, bukan hanya beban bagi orang tua semata.
Arif mendorong adanya sinergi antara lingkungan rukun tetangga, tokoh masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung ketahanan keluarga. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan fungsi proteksi dan edukasi dalam keluarga tetap berjalan optimal.
“Ketahanan keluarga yang kuat akan melahirkan generasi unggul yang mampu membawa kemajuan bagi daerah dan bangsa,” pungkas Arif.