Pencarian

Kalteng Masuk 10 Provinsi Inflasi Tertinggi, Kapuas Tembus 3,97 Persen

Rabu, 06 Mei 2026 • 11:35:04 WIB
Kalteng Masuk 10 Provinsi Inflasi Tertinggi, Kapuas Tembus 3,97 Persen
Inflasi tahunan Kalimantan Tengah mencapai 3,66 persen hingga April 2026.

PALANGKA RAYA — Kondisi ekonomi Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah mendapat perhatian serius setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka inflasi tahunan yang melampaui rata-rata nasional. Hingga April 2026, kenaikan harga barang dan jasa di Bumi Tambun Bungai menyentuh angka 3,66 persen secara year-on-year (yoy).

Kenaikan ini memicu respons cepat dari Pemerintah Provinsi Kalteng. Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, menegaskan bahwa sinergi antarinstansi menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah dinamika harga pangan yang fluktuatif.

Kondisi Inflasi Kalteng dan Lonjakan di Kabupaten Kapuas

Berdasarkan laporan terbaru BPS, inflasi bulanan di Kalteng pada April 2026 tercatat sebesar 0,41 persen. Angka ini menempatkan Kalteng sebagai salah satu dari 30 provinsi yang mengalami tekanan harga, di saat delapan provinsi lainnya justru mencatatkan deflasi.

Kondisi paling mencolok terjadi di Kabupaten Kapuas. Wilayah ini masuk dalam daftar 10 kabupaten/kota dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 3,97 persen. Lonjakan ini dipicu oleh ketergantungan pada beberapa komoditas pokok yang pasokannya sempat terganggu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa secara nasional inflasi sebenarnya cenderung melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, beberapa daerah termasuk Kalteng masih menunjukkan tren yang tinggi pada kelompok pengeluaran tertentu.

Daftar Komoditas Pemicu Kenaikan Harga di Daerah

Meskipun secara nasional kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi tipis sebesar 0,20 persen, situasi di Kalimantan Tengah menunjukkan pola berbeda pada komoditas strategis. Beberapa bahan pokok tetap menjadi penyumbang utama inflasi di tingkat lokal.

  • Beras: Masih menjadi komponen utama yang memengaruhi daya beli masyarakat.
  • Daging Ayam Ras: Mengalami fluktuasi harga yang signifikan di pasar tradisional.
  • Minyak Goreng: Pasokan yang tidak merata memicu kenaikan harga di tingkat pengecer.
  • Telur Ayam Ras: Permintaan yang tinggi tidak sebanding dengan kelancaran distribusi.

“Pada April 2026, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,20% dengan andil deflasi sebesar 0,06% dimana beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras dan cabai merah,” ujar Ateng Hartono memaparkan kondisi nasional sebagai perbandingan.

Instruksi Kemendagri: Operasi Pasar Harus Terukur

Menanggapi data tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, meminta seluruh kepala daerah tidak lengah. Dalam koordinasi virtual pada Selasa (5/5/2026), ia menekankan pentingnya langkah konkret yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah.

Tomsi meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan kelancaran distribusi barang dari daerah surplus ke daerah defisit. Operasi pasar murah harus dilakukan secara tepat sasaran, terutama pada komoditas yang menyumbang angka inflasi tertinggi di daerah masing-masing.

Pemprov Kalteng menyatakan komitmennya untuk menjalankan instruksi tersebut melalui penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Fokus utama saat ini adalah memastikan stok pangan tersedia cukup hingga beberapa bulan ke depan guna meredam spekulasi harga di tingkat pedagang besar.

Bagikan
Sumber: balanganews.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks