MUARA TEWEH — Maya Savitri Shalahuddin mengajak para siswa untuk fokus menyelesaikan pendidikan dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan menikah. Ia menyebut perkawinan usia anak dapat menghambat masa depan yang seharusnya bisa diraih.
“Remaja harus memiliki cita-cita yang tinggi dan fokus menyelesaikan pendidikan. Jangan sampai masa depan yang seharusnya bisa diraih menjadi terhambat karena keputusan menikah sebelum siap secara fisik, mental, dan ekonomi,” kata Maya dalam kegiatan MPLS, Rabu.
Risiko Kesehatan dan Sosial yang Mengintai
Dalam materinya, Maya menjelaskan bahwa perkawinan usia anak diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, yaitu pernikahan yang dilakukan seseorang sebelum mencapai usia 19 tahun. Ia menegaskan, dampak negatifnya tidak hanya soal pendidikan, tetapi juga kesehatan dan sosial ekonomi.
“Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, hingga terganggunya kesehatan mental menjadi beberapa dampak yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Anak yang menikah dini juga berpotensi putus sekolah dan kehilangan kesempatan meraih masa depan lebih baik.
Faktor Pemicu dan Peran Semua Pihak
Maya memaparkan sejumlah faktor yang bisa memicu perkawinan usia anak, antara lain kemiskinan, rendahnya pendidikan, pengaruh budaya, kehamilan tidak direncanakan, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, serta tekanan lingkungan.
Ia mengajak siswa memahami pentingnya kesehatan reproduksi, menghindari pergaulan berisiko, dan berani berdiskusi dengan orang tua, guru, atau konselor jika menghadapi persoalan yang bisa memengaruhi masa depan.
“Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berprestasi,” kata Maya.
Ketua TP PKK Barito Utara itu menekankan, upaya pencegahan perkawinan usia anak memerlukan peran aktif seluruh pihak—keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah. Dengan komunikasi yang baik, pendidikan memadai, dan dukungan lingkungan positif, setiap anak bisa tumbuh optimal meraih cita-citanya.
Kegiatan ini mendapat antusiasme peserta MPLS. Diharapkan, para siswa memiliki pemahaman lebih baik tentang pentingnya merencanakan masa depan, melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, dan menghindari perkawinan usia anak demi mewujudkan generasi Barito Utara yang berkualitas.