PALANGKA RAYA — Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya mencatat peningkatan jumlah hotspot yang tersebar di 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Data pemantauan Jumat (10/7/2026) menunjukkan angka itu naik signifikan dan menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan BMKG, Chandra Mukti Wijaya, menyatakan pemantauan hotspot dilakukan setiap hari sebagai sistem peringatan dini. "Data ini menjadi indikator yang harus diwaspadai bersama, terutama di daerah yang jumlah hotspot-nya cukup tinggi," ujarnya.
Sebaran Hotspot di 14 Wilayah
Selain Kotawaringin Timur, Lamandau menempati posisi kedua dengan 23 titik panas. Disusul Pulang Pisau sebanyak 19 titik, Kapuas 17 titik, dan Sukamara 13 titik. Gunung Mas tercatat 8 titik, Kotawaringin Barat 7 titik, Katingan dan Seruyan masing-masing 5 titik.
Barito Timur dan Barito Utara masing-masing 2 titik. Sedangkan Barito Selatan, Murung Raya, dan Kota Palangka Raya masing-masing terpantau 1 titik panas.
Hotspot Belum Tentu Api, Tapi Wajib Dicek ke Lapangan
Chandra menjelaskan keberadaan hotspot belum tentu menandakan telah terjadi kebakaran. Namun, titik panas itu tetap menjadi indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti. "Pengecekan di lapangan oleh instansi terkait diperlukan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," katanya.
Kondisi cuaca di Kalteng saat ini masih didominasi cerah berawan hingga berawan. Peluang hujan ringan hingga sedang masih ada secara lokal di beberapa wilayah, bahkan berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Larangan Membakar Lahan dan Pentingnya Sinergi
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tindakan itu berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan serta menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga.
Chandra menegaskan, "Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun serta terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG."
BMKG menilai sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam pencegahan karhutla. Memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus, seluruh elemen masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan indikasi kebakaran agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.