Pencarian

Perkebunan Sawit di Perbatasan Kalbar-Sukamara Jadi Penopang Ekonomi Pasar Inpres, Omzet Pedagang Terjaga

Jumat, 05 Juni 2026 • 18:30:11 WIB
Perkebunan Sawit di Perbatasan Kalbar-Sukamara Jadi Penopang Ekonomi Pasar Inpres, Omzet Pedagang Terjaga
Pedagang di Pasar Inpres Sukamara mengandalkan pembeli dari perkebunan sawit perbatasan Kalbar-Sukamara.

KALIMANTAN TENGAH — Keberadaan perkebunan sawit di perbatasan itu tidak hanya menghidupi para pekebun, tetapi juga pedagang dan pelaku usaha mikro di Pasar Inpres. Pasokan kebutuhan pokok dan barang harian di pasar ini sangat bergantung pada siklus panen dan gaji buruh perkebunan di wilayah perbatasan.

Jalur Distribusi dan Daya Beli Masyarakat

Menurut sejumlah pedagang di Pasar Inpres, pembeli utama mereka adalah pekerja perkebunan dan warga dari desa-desa penyangga di perbatasan Kalbar-Sukamara. Saat musim panen atau saat perusahaan membayar upah, omzet di pasar ini bisa naik drastis.

Seorang pedagang sembako di Pasar Inpres, mengakui bahwa hampir 60 persen pelanggannya datang dari wilayah perbatasan. “Kalau harga sawit lagi bagus, dagangan laris. Tapi kalau turun, pasar sepi,” ujarnya kepada wartawan, pekan lalu.

Pasar Inpres Sukamara: Pusat Ekonomi Perbatasan

Pasar Inpres Sukamara selama ini berfungsi sebagai simpul distribusi bagi wilayah perbatasan yang secara administratif masuk Kalbar, namun secara ekonomi lebih terhubung ke Sukamara. Akses jalan yang lebih pendek dan kondisi infrastruktur yang relatif lebih baik membuat pedagang dan pembeli memilih pasar ini.

Kondisi ini memperkuat posisi Sukamara sebagai kota penyangga ekonomi di perbatasan. Aktivitas jual-beli di pasar ini tidak hanya melibatkan warga lokal, tetapi juga para tengkulak dan pemasok dari luar daerah.

Tantangan: Harga Sawit dan Infrastruktur Jalan

Meski menjadi penopang, ketergantungan pada satu sektor komoditas membuat ekonomi Pasar Inpres rentan. Saat harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok, daya beli masyarakat perbatasan ikut tertekan, dan omzet pedagang di pasar langsung terasa dampaknya.

Selain itu, kondisi jalan di beberapa ruas menuju perbatasan masih perlu perbaikan. Akses yang kurang mulus kerap menghambat distribusi barang dari Sukamara ke wilayah perbatasan, terutama saat musim hujan.

Harapan dari Pemerintah Daerah

Pedagang dan masyarakat berharap pemerintah daerah, baik Pemkab Sukamara maupun Pemprov Kalimantan Tengah, dapat memperhatikan infrastruktur pendukung dan diversifikasi ekonomi di kawasan perbatasan. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga agar Pasar Inpres tetap hidup, tidak hanya bergantung pada satu komoditas.

Pasar Inpres Sukamara kini masih bertahan sebagai urat nadi ekonomi warga perbatasan. Selama perkebunan sawit berproduksi, roda ekonomi di pasar itu terus berputar.

Bagikan
Sumber: radarsampit.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks