GUNUNG MAS — Pemilihan Desa Karya Bhakti sebagai percontohan tidak lepas dari hasil asesmen awal yang dilakukan DPKP. Dari pendataan lapangan, ditemukan bahwa sebagian besar warganya masih menggantungkan kebutuhan pangan harian pada pasokan dari luar desa.
Awal Mula: Mengapa Desa Karya Bhakti Dipilih?
Proses penetapan dimulai dengan survei potensi desa oleh tim DPKP pada beberapa pekan lalu. Hasilnya, desa ini dinilai memiliki lahan pekarangan yang cukup luas namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya tanaman pangan.
"Kami melihat potensi lahan pekarangan warga yang bisa dioptimalkan. Program ini bukan sekadar bantuan, tapi pendampingan penuh agar keluarga bisa mandiri," ujar Kepala DPKP Gunung Mas dalam keterangan yang diterima, Senin lalu.
Tahapan: Bagaimana Program Akan Berjalan?
Program Ketahanan Pangan Keluarga Terpadu ini tidak berjalan instan. DPKK telah menyusun tiga tahapan utama yang akan diterapkan di Desa Karya Bhakti.
Tahap pertama adalah sosialisasi dan pelatihan dasar bagi puluhan ibu rumah tangga. Materi mencakup teknik bercocok tanam hidroponik sederhana dan budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yang bisa dilakukan di lahan sempit.
Tahap kedua adalah distribusi bantuan bibit dan sarana produksi. Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan paket lengkap, mulai dari bibit sayuran, benih ikan lele, hingga pakan ternak.
Tahap ketiga adalah pendampingan dan monitoring rutin oleh penyuluh pertanian lapangan. Tim akan turun setiap dua pekan sekali untuk memastikan tanaman dan ikan berkembang baik.
Target: Menekan Angka Stunting dari Hulu
DPKP menargetkan dalam tiga bulan ke depan, setiap rumah tangga binaan sudah bisa memanen sayuran dan ikan untuk konsumsi sendiri. Kelebihan hasil panen nantinya akan dikelola melalui lumbung pangan desa.
"Kami ingin memastikan anak-anak di desa ini mendapatkan asupan gizi yang cukup dari hasil kebun sendiri. Ini langkah konkret menekan stunting dari hulu," tambahnya.
Apa Langkah Selanjutnya?
Jika program percontohan di Desa Karya Bhakti berhasil, DPKP akan mereplikasi model serupa ke desa-desa lain di Gunung Mas. Evaluasi pertama dijadwalkan dilakukan pada akhir bulan depan untuk mengukur tingkat partisipasi dan hasil panen perdana.
Program ini menjadi salah satu prioritas Pemkab Gunung Mas dalam upaya memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan warga pada pasokan dari luar daerah.