KALIMANTAN TENGAH — Keputusan PlayStation mundur dari PHYSINT bukan sekadar perubahan strategi mendadak. Laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media menunjukkan proyek tersebut dinilai semakin sulit dibenarkan secara bisnis, dengan kebutuhan investasi yang diperkirakan mencapai ratusan juta Dolar.
Setelah Sony mundur pada Juni 2026, Kojima Productions butuh sekitar tiga bulan untuk mendapatkan partner baru. Xbox akhirnya mengisi posisi yang ditinggalkan PlayStation.
Mengapa Sony Menilai PHYSINT Terlalu Berisiko
Masalah pertama terletak pada jadwal produksi. PHYSINT disebut telah melewati sejumlah tenggat pengembangan dan masih membutuhkan waktu panjang sebelum siap dirilis.
Semakin lama proyek AAA berada dalam produksi, semakin besar biaya yang harus ditanggung publisher. Kondisi ini membuat PlayStation melihat proyek tersebut masih bertahun-tahun dari selesai.
Faktor kedua adalah prospek keuntungan. Menurut sumber Bloomberg, dua game Kojima Productions sebelumnya yang diterbitkan Sony, Death Stranding dan Death Stranding 2: On the Beach, sama-sama tidak memenuhi ekspektasi pendapatan PlayStation.
Keduanya tidak merugi. Namun performa tersebut memberi Sony alasan lebih kuat untuk berhati-hati sebelum menggelontorkan investasi besar lagi untuk proyek Kojima berikutnya.
IP Milik Kojima Productions Jadi Pertimbangan Kunci
Ada persoalan yang lebih mendasar: Sony tidak akan sepenuhnya memiliki hasil investasi tersebut. PHYSINT merupakan IP milik Kojima Productions, bukan PlayStation.
Pola yang sama terjadi pada Death Stranding, yang pertama kali hadir di PlayStation tetapi kemudian diperluas ke platform lain. Sony disebut enggan menginvestasikan ratusan juta Dolar untuk game yang berpotensi tidak menjadi eksklusif permanen bagi perangkatnya.
Dari sudut pandang bisnis, PlayStation bukan hanya menghitung biaya produksi, tetapi juga seberapa besar keuntungan eksklusivitas yang bisa didapat sebagai imbalannya.
Xbox Melihat Model Bisnis yang Berbeda
Keputusan Sony mundur tidak berarti PHYSINT mati. Kojima Productions bergerak cepat mencari publisher pengganti dan mendapatkan Xbox.
Microsoft menilai investasi tersebut lebih menarik karena rencananya membawa game ke Xbox dan PC. Model bisnisnya tidak bergantung pada eksklusivitas seperti yang diterapkan PlayStation.
Kombinasi biaya meningkat, jadwal meleset, prospek keuntungan yang diragukan, dan kepemilikan IP yang tetap di tangan Kojima Productions menjelaskan mengapa Sony memilih memotong kerugian sebelum biaya semakin membesar.
Ironisnya, risiko yang dianggap terlalu besar oleh PlayStation justru kini diambil Xbox.