Pencarian

Investasi Hulu Migas RI Dinilai Kompetitif, Asal Proyek Tak Lama Menganggur

Minggu, 20 September 2026 • 11:52:31 WIB
Investasi Hulu Migas RI Dinilai Kompetitif, Asal Proyek Tak Lama Menganggur

KALIMANTAN TENGAH — Potensi cadangan minyak dan gas bumi Indonesia masih tergolong besar di Asia Pasifik, tetapi kecepatan eksekusi proyek dari penemuan hingga produksi menjadi penentu utama apakah investor global mau menanam modal. Pengamat menilai kejelasan kebijakan, regulasi, dan pasar sama pentingnya dengan besarnya sumber daya bawah tanah.

Paragraf pembuka: Pri Agung Rakhmanto, pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus pendiri ReforMiner Institute, menilai Indonesia masih punya modal besar untuk menarik investasi hulu migas. Modal itu terletak pada potensi sumber daya yang belum tergarap, bukan pada besarnya insentif semata.

Dari sisi risiko bawah tanah, Indonesia disebut masuk tiga hingga empat besar di Asia Pasifik. Namun, risiko di permukaan menjadi ujian yang lebih berat: kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kejelasan pasar, sampai infrastruktur pendukung.

Nama Besar Masih Melirik, tapi Belum Tentu Eksekusi

Sejumlah perusahaan migas internasional masih menempatkan Indonesia dalam radar investasi mereka. Eni, Petronas, dan Mubadala disebut Pri Agung sebagai nama-nama yang masih mempertimbangkan peluang di dalam negeri.

Masalahnya, ketertarikan tidak otomatis berubah menjadi komitmen modal. Jarak waktu antara penemuan cadangan dan proyek mulai berproduksi menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan investor.

"Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor," ujar Pri Agung.

Pemerintah memang sudah memperbaiki sejumlah aspek fiskal. Namun, Pri Agung mengingatkan bahwa proyek migas Indonesia bersaing langsung dengan portofolio investasi di negara lain yang menawarkan risiko dan imbal hasil serupa.

Ukuran Keberhasilan Bukan Cuma Nilai Investasi

Pri Agung menilai keberhasilan kebijakan investasi tidak cukup diukur dari kenaikan nilai investasi yang masuk. Indikator yang lebih nyata adalah peningkatan cadangan dan produksi migas.

Kepercayaan investor, menurut dia, terlihat dari keputusan investasi dan kemampuan proyek dieksekusi hingga tuntas. Beberapa proyek yang perlu dikawal antara lain Abadi Masela, North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan wilayah kerja migas baru.

Regional President Asia Pacific bp, Kathy Wu, sebelumnya menyampaikan bahwa persaingan memperoleh alokasi modal di tingkat global semakin ketat. Kemitraan strategis dengan pemerintah menjadi salah satu faktor penting untuk membangun kepercayaan investor.

"Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi," jelas Kathy.

Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd mencontohkan perjalanan perusahaan selama 128 tahun di Indonesia, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang produksi minyak nasional.

"Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini," kata Wade.

Faktor yang Menentukan Daya Saing

Daya saing investasi hulu migas tidak berdiri di atas satu variabel. Ada sejumlah faktor yang saling terkait: kebijakan fiskal, skema kontrak, proses bisnis, teknologi, infrastruktur, kepastian pasar, hingga kecepatan pengambilan keputusan.

Insentif yang diberikan pun perlu menghasilkan dampak terukur. Indikatornya meliputi tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi daerah penghasil migas.

Penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi salah satu fokus dalam FOREK Hulu Migas 2026. Forum tersebut membahas penguatan ekosistem investasi untuk mendorong eksplorasi, pengembangan proyek, peningkatan produksi, dan ketahanan energi nasional.

Penutup: Bagi Indonesia, taruhannya bukan sekadar menarik modal asing, melainkan memastikan setiap temuan cadangan bergerak cepat menuju produksi. Selama rentang waktu penemuan ke produksi masih panjang, potensi bawah tanah yang besar belum tentu berbuah penerimaan negara dan ketahanan energi.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks