KUALA KAPUAS — Antrean panjang terlihat di sejumlah titik sebelum pembagian dimulai. Warga datang dengan membawa wadah sendiri, mengikuti imbauan panitia yang mengusung konsep ramah lingkungan untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.
Bubur Asyura Diperiksa Puskesmas Sebelum Dibagikan
Panitia tak hanya menyiapkan bubur dalam jumlah besar. Demi keamanan konsumsi, setiap kuali yang telah dimasak terlebih dahulu diperiksa oleh petugas dari Puskesmas Melati setempat. Langkah ini memastikan makanan yang dibagikan layak dikonsumsi oleh ratusan warga yang berjejal.
"Tradisi ini merupakan warisan budaya dan keagamaan yang terus kami lestarikan. Seluruh pelaksanaannya didukung oleh partisipasi masyarakat melalui donasi dan gotong royong," kata Lurah Selat Tengah yang juga Ketua Panitia, Saipuni, di sela kegiatan.
Camat Apresiasi Gotong Royong Warga
Camat Selat, Syarifullah, yang turut hadir mengapresiasi kekompakan warga. Menurutnya, tradisi Bubur Asyura bukan hanya wujud rasa syukur kepada Allah SWT, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat berbagi.
"Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilestarikan dan dikembangkan sehingga manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat luas dari tahun ke tahun," ujar Syarifullah.
Bubur dari 10 Blek Beras dan Rempah Khas
Saipuni menjelaskan, Bubur Asyura tahun ini dimasak menggunakan 47 kuali. Bahan utamanya sekitar 10 blek beras yang dipadukan berbagai rempah dan biji-bijian khas, menciptakan cita rasa yang dinanti-nantikan warga setiap bulan Muharram.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jalan Mahakam ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun. Warga sudah memadati lokasi jauh sebelum pembagian dimulai.