KUALA KAPUAS — Bupati Kapuas, Kalimantan Tengah, Muhammad Wiyatno, memimpin langsung Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2026 di lapangan salah satu perusahaan sawit Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Jumat. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman, apalagi di lahan gambut yang sulit dipadamkan dan membutuhkan biaya besar.
Luas Kebakaran 2025 Capai 274,79 Hektare, Mantangai Terparah
Data evaluasi tahun sebelumnya menunjukkan luas kebakaran di Kabupaten Kapuas pada 2025 mencapai sekitar 274,79 hektare. Kecamatan Mantangai tercatat sebagai wilayah terdampak terbesar dengan luas kebakaran sekitar 132,69 hektare, disusul Dadahup sekitar 62,9 hektare.
"Puncak risiko Karhutla diperkirakan terjadi pada Juli hingga September. Kabupaten Kapuas, khususnya wilayah Mantangai dan Dadahup yang didominasi lahan gambut, sangat rentan terhadap kebakaran, apabila tidak diantisipasi sejak dini," tambah Wiyatno.
Kata Kunci Tahun Ini: Pencegahan, Deteksi Dini, dan Patroli Terpadu
Wiyatno menekankan, strategi utama tahun ini adalah pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, patroli terpadu, dan tanggapan cepat. Ia meminta seluruh perusahaan memastikan sarana dan prasarana penanggulangan karhutla siap operasi 100 persen.
"Termasuk meningkatkan patroli rutin, menjaga fungsi sekat kanal, embung, dan menara pantau, serta memperkuat koordinasi lintas instansi," kata dia.
MoU Perusahaan dan Masyarakat Peduli Api Jadi Garda Terdepan
Apel siaga juga dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan dan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Melalui kerja sama ini, masyarakat dilibatkan secara aktif sebagai garda terdepan dalam patroli, pemantauan, sosialisasi, pelaporan cepat, hingga pemadaman awal apabila terjadi kebakaran.
Pemkab Kapuas berharap kerja sama tersebut tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi benar-benar diwujudkan melalui aksi nyata yang didukung pelatihan dan sarana memadai.
Larangan Bakar Lahan Digencarkan, Tokoh Adat Diminta Bantu Edukasi
Wiyatno juga meminta camat dan kepala desa untuk terus menggencarkan sosialisasi bahaya karhutla, termasuk larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Ia mengajak tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk memperkuat edukasi kepada warga melalui pendekatan budaya dan nilai-nilai kebaikan.
"Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita. Mari jadikan musim kemarau ini sebagai bukti bahwa Kapuas mampu tangguh melalui sinergi pemerintah, perusahaan, aparat, dan masyarakat," demikian Wiyatno.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda, Kepala BPBD Kapuas, kepala dinas terkait, Camat Mantangai dan Dadahup, jajaran manajemen perusahaan, aparat keamanan, kepala desa, tokoh masyarakat, kelompok MPA, serta peserta apel dari berbagai unsur.