Pencarian

BMKG Ungkap Alasan Kotim Sangat Rawan Karhutla: Lahan Kering Hingga Kedalaman 10 Centimeter

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:30:32 WIB
BMKG Ungkap Alasan Kotim Sangat Rawan Karhutla: Lahan Kering Hingga Kedalaman 10 Centimeter
Petugas memantau titik panas di lahan kering yang rawan terbakar di Kabupaten Kotawaringin Timur.

SAMPIT — Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki fase kritis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menyebut tingkat kekeringan lahan tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga telah menembus lapisan tanah yang lebih dalam.

Kondisi ini membuat upaya pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibandingkan karhutla biasa. Api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar mati di dalam tanah.

Indikator Kekeringan di Lapisan Permukaan

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa tingkat kekeringan bahan bakar di permukaan lahan Kotim sudah masuk kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini terukur melalui indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC).

"Dari FFMC, indikator bahwa di lapisan permukaan atau di lapisan 1-2 centimeter itu mudah terbakar," kata Mulyono, Rabu (26/8/2026).

Ia menambahkan, potensi terbakar di lapisan permukaan ini berada pada level sangat tinggi dalam rentang waktu 24 hingga 30 Agustus 2026.

Api Merambat Lebih Cepat di Kedalaman 5 Centimeter

Ancaman yang lebih serius terdeteksi pada kedalaman tanah 2 hingga 5 centimeter. Wilayah Kotim yang telah lama tidak diguyur hujan membuat lapisan ini semakin kering dan mudah terbakar.

"Potensi di lapisan 2 sampai 5 centimeter semakin tinggi untuk terbakar, apalagi sudah merambat. Posisi merambat dia akan menyebar lebih cepat," jelasnya.

Artinya, api yang sudah masuk ke lapisan ini akan sulit terdeteksi dari permukaan dan berpotensi menyebar secara horizontal dengan cepat.

Lahan Gambut di Kotim Selatan Paling Terancam

Kondisi paling mengkhawatirkan berada di wilayah selatan Kotim. Pada kedalaman 10 centimeter ke bawah, tingkat kekeringan tanah sudah sangat ekstrem. Hal ini diperparah dengan tidak adanya suplai hujan dalam beberapa hari terakhir.

"Di bagian selatan Kotim itu potensinya sangat tinggi karena sudah semakin kering. Dan juga kita sudah tidak menerima hujan dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.

Kondisi kekeringan ini diperkirakan masih akan bertahan hingga 30 Agustus 2026. Untuk lahan gambut, karhutla membutuhkan penanganan ekstra karena api yang membakar di lapisan bawah tanah memerlukan suplai air yang sangat banyak untuk benar-benar padam.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tintaborneo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks