SAMPIT — Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Desa Tanah Haluan, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyisakan asap tipis yang masih membubung dari area lahan warga. Padahal, proses pemadaman bersama antara perusahaan dan satgas karhutla kecamatan telah dilakukan sejak Senin malam (24/8).
Camat Bukit Santuai Agus Saptono meneruskan laporan dari pihak PT AWL yang menyebut bahwa hasil pemantauan menggunakan drone menunjukkan api sudah padam, namun masih ada kepulan asap dari lahan masyarakat.
Sumber Asap Berjarak 100 Meter dari Kawasan Perusahaan
Berdasarkan hasil pemantauan udara, titik asap diketahui berasal dari lahan warga yang terbakar di Desa Tanah Haluan. Lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari batas kawasan perusahaan.
Meski demikian, areal perusahaan telah dilakukan steking area atau land clearing sebagai bagian dari upaya pengamanan batas kawasan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah api menjalar masuk ke area konsesi.
Tiga Titik Api dan Luasan Lahan Terbakar Capai 2,5 Hektare
Hasil pemantauan juga menemukan adanya tiga titik kebakaran di sekitar lokasi kejadian. Total luasan lahan yang terbakar berdasarkan estimasi mencapai sekitar 2,5 hektare.
Agus Saptono yang turun langsung ke lokasi menyebutkan bahwa pemadaman dilakukan tim Keminting Estate sejak malam hari, mulai pukul 18.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Mengapa Asap Masih Muncul Meski Api Sudah Padam?
Keberadaan asap sisa kebakaran menunjukkan masih terdapat bagian lahan yang perlu dipantau secara ketat. Agus menegaskan pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada titik api atau bara yang kembali menyala dan menjalar ke kawasan sekitar.
"Pemantauan menggunakan drone melaporkan masih ada asap sisa kebakaran," kata Agus berdasarkan laporan yang diterimanya.
Lokasi Terpencil, Butuh Satu Jam dari Pusat Kecamatan
Lokasi karhutla di wilayah Desa Tumbang Penyahuan dan Tanah Haluan cukup jauh dari ibu kota Kecamatan Bukit Santuai. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar satu jam, sehingga penanganan cepat menjadi tantangan tersendiri.
Penanganan di lapangan melibatkan unsur perusahaan, termasuk personel dan sarana prasarana pemadaman, bersama relawan kecamatan dan desa. Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam upaya memadamkan api sebelum meluas ke area lain.