Pencarian

El Nino Sangat Kuat Landa Kobar, BMKG: Sebagian Wilayah Sudah 60 Hari Tanpa Hujan dan Sangat Mudah Terbakar

Kamis, 20 Agustus 2026 • 22:05:02 WIB
El Nino Sangat Kuat Landa Kobar, BMKG: Sebagian Wilayah Sudah 60 Hari Tanpa Hujan dan Sangat Mudah Terbakar
BMKG mencatat sebagian wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat telah mengalami 60 hari tanpa hujan dengan tingkat kemudahan terbakar sangat tinggi.

PANGKALAN BUN — Ancaman karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, memasuki fase kritis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks kemudahan terbakar di wilayah tersebut sudah berada pada level Very High atau sangat mudah terbakar, diperparah dengan fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Forecaster On Duty Stasiun Meteorologi Iskandar Kelas III Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, mengungkapkan bahwa kondisi El Nino saat ini jauh lebih parah dari perkiraan awal. Berdasarkan data historis ENSO bulanan, kekuatannya masuk kategori sangat kuat dan berdampak signifikan terhadap pengurangan curah hujan di Indonesia.

"El Nino saat ini menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. Kondisi ini berdampak pada pengurangan curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Indonesia," kata Ni Kadek Trisna Dewi, Rabu (19/8/2026).

Peta Kerawanan: 60 Hari Kering dan Suhu Naik 1 Derajat

Data pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) per 10 Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kobar telah memasuki kategori sangat panjang, yakni 31 hingga 60 hari tanpa hujan. Kondisi ini diperparah dengan anomali suhu rata-rata bulanan yang naik sekitar 0,75 hingga 1 derajat Celsius dibandingkan normal.

Kombinasi antara kemarau panjang dan suhu udara yang lebih tinggi membuat material kering di permukaan tanah—seperti daun, ranting, dan gambut—sangat mudah terbakar. Faktor angin yang meningkat juga memperbesar potensi api menyebar lebih cepat ke area lain.

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi pada September

Masyarakat Kobar belum bisa bernapas lega. Berdasarkan analisis dasarian I Agustus 2026, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian dengan puncaknya terjadi pada September. Pada bulan tersebut, curah hujan di Kobar diperkirakan hanya berkisar 0 hingga 20 milimeter.

BMKG memperkirakan curah hujan baru akan mulai meningkat pada Oktober sebesar 20 hingga 150 milimeter, dan kembali normal pada November dengan kisaran 50 hingga 300 milimeter. Artinya, potensi titik api masih akan mengintai selama beberapa pekan ke depan.

Larangan Membakar dan Imbauan Hemat Air

Menghadapi situasi ini, warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Membakar sampah atau daun kering di lahan terbuka sangat tidak disarankan, begitu pula membuang puntung rokok sembarangan yang bisa menjadi sumber api di tengah kondisi lahan yang sangat kering.

"Sedikit saja sumber api muncul di tengah kondisi tersebut dapat menjadi ancaman serius," tegasnya. Warga juga diimbau untuk lebih bijak menggunakan air bersih selama musim kemarau, mengingat ketersediaan air tanah yang semakin menurun. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama untuk mencegah kebakaran meluas menjadi karhutla yang sulit dikendalikan.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kaltengonline.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks