SAMPIT — Operasional penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit kembali terganggu imbas kabut asap. Pesawat Super Air Jet rute Jakarta-Sampit yang membawa 148 penumpang terpaksa melakukan return to base (RTB) ke Jakarta pada Sabtu siang karena jarak pandang di bawah batas minimum keselamatan.
Corporate Communications Strategic of Wings Air, Danang Mandala Prihantoro, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil semata-mata untuk mengutamakan keselamatan pelanggan dan awak pesawat. "Keselamatan dan keamanan pelanggan serta awak pesawat merupakan prioritas utama dalam setiap operasional penerbangan Super Air Jet," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima di Sampit.
Kronologi Gagalnya Pendaratan Pesawat di Sampit
Pesawat dengan nomor penerbangan IU350 itu dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 12.35 WIB. Namun saat hendak melakukan proses pendaratan di Bandara Haji Asan Sampit, kondisi cuaca berupa smoke condition atau asap pekat membuat pilot tidak dapat melanjutkan prosedur pendaratan.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Haji Asan Sampit, Abdul Haris, menjelaskan bahwa asap akibat karhutla di sekitar bandara menyebabkan jarak pandang berada pada kondisi minimum untuk operasional penerbangan. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama sebelum akhirnya pesawat memutuskan kembali ke bandara asal.
Dampak Beruntun: Penerbangan Sampit-Jakarta Ikut Dibatalkan
Kegagalan pendaratan ini berdampak langsung pada jadwal penerbangan lanjutan. Penerbangan IU351 rute Sampit-Jakarta yang semula dijadwalkan berangkat pukul 14.50 WIB terpaksa dibatalkan karena pesawat tidak berada di lokasi.
Akibatnya, para penumpang yang hendak terbang ke Jakarta harus menunggu jadwal keberangkatan berikutnya. Sebagian penumpang yang gagal mendarat terpaksa menginap di Jakarta untuk menunggu jadwal ulang. Tidak ada korban dalam peristiwa ini, hanya terjadi penundaan jadwal penerbangan.
Waktu Operasional Bandara Jadi Faktor Pembatas
Selain kabut asap, waktu operasional Bandara Haji Asan Sampit yang hanya berlangsung hingga pukul 17.00 WIB menjadi faktor yang turut dipertimbangkan. Kondisi jarak pandang yang membaik pada sore hari pun tidak otomatis membuat penerbangan bisa dilakukan karena terbatasnya waktu operasional.
Super Air Jet menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait serta memantau perkembangan kondisi jarak pandang dan situasi operasional di Bandara Haji Asan Sampit sebelum memutuskan jadwal penerbangan selanjutnya.
Karhutla Kembali Mengancam Sektor Transportasi Udara
Keberadaan titik api di sekitar kawasan bandara sebenarnya telah menjadi perhatian sejak sebelumnya. UPBU Kelas II Haji Asan Sampit mengaku terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan tim penanganan karhutla sebagai upaya mitigasi terhadap potensi gangguan operasional penerbangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan sektor pelayanan publik, khususnya transportasi udara di Kalimantan Tengah.
Masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Haji Asan Sampit diimbau untuk memastikan kembali status penerbangan kepada maskapai sebelum menuju bandara, terutama saat kondisi cuaca dan jarak pandang sedang tidak mendukung.