PALANGKA RAYA — Kepala Dishut Kalteng Agustan Saining menjelaskan bahwa akses menuju lokasi menjadi kendala utama. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan kelotok dari akses sungai untuk mencapai titik kebakaran.
Selain peralatan pemadaman, tim mendapat dukungan tiga perahu milik masyarakat Sebangau. Sumber air untuk pemadaman diambil dari Sungai Sebangau yang berjarak sekitar 60 meter dari titik kebakaran.
Medan Semak Belukar hingga Tanah Gambut
Kondisi lapangan di lokasi karhutla didominasi semak belukar, daun kering, serta pepohonan seperti galam, blangiran, dan rasau. Jenis tanah di lokasi berupa mineral dan gambut.
Penanganan dilakukan setelah tim menindaklanjuti karhutla sebelumnya yang berada di kawasan Desa Patung, Karukan Tunggal, Selasa (29/9).
Api Belum Sepenuhnya Padam, Petugas Lakukan Pendinginan
Hingga penanganan berakhir sekitar pukul 16.17 WIB, api belum sepenuhnya padam. Petugas masih menemukan asap yang keluar dari sejumlah batang kayu sehingga diperlukan pemantauan dan pendinginan lanjutan.
Kondisi lokasi tetap perlu dipantau untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api. "Upaya penanganan dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas di kawasan tahura," kata Agustan.
Arahan Gubernur: Penanganan Berkelanjutan
Agustan menyebut sesuai arahan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, tim terus berupaya maksimal melakukan penanganan karhutla secara berkelanjutan. Upaya itu meliputi pemadaman, pembatasan penjalaran api, hingga pendinginan di lokasi.
Dukungan tiga perahu masyarakat Sebangau menjadi kunci mobilitas personel di medan yang sulit dijangkau lewat jalur darat. Tanpa akses sungai, tim harus mencari jalur alternatif yang memakan waktu lebih lama.