KALIMANTAN TENGAH — Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani melaporkan 10 proyek strategis di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menelan investasi 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun. Empat proyek sudah beroperasi komersial, sementara enam sisanya resmi masuk tahap konstruksi. Seluruh proyek diproyeksikan membuka lebih dari 10 ribu lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Paragraf pembuka: Laporan disampaikan Rosan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja ke Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10). Rosan yang juga menjabat Kepala BKPM dan Kepala BPI Danantara menegaskan hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan sudah berjalan di lapangan. Pemerintah ingin pengolahan sumber daya alam tidak berhenti di bahan mentah, tetapi masuk lebih jauh ke rantai industri.
Empat Proyek Sudah Komersial, Enam Mulai Konstruksi
Dari 10 proyek yang tercatat, empat di antaranya telah selesai dan masuk tahap komersial dengan nilai investasi 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun. Proyek yang sudah berjalan itu bergerak di sektor baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolit, hingga alat berat berbasis listrik.
Sementara enam proyek lain senilai total 6,8 miliar dolar AS baru memasuki tahap pembangunan. Rosan menyebut keenam proyek itu resmi ditandai lewat seremoni peletakan batu pertama.
Enam proyek baru tersebut mencakup material baterai berbasis nikel, separator baterai kendaraan listrik, elektrolit baterai EV, aluminium elektrolitik, alat berat listrik untuk pertambangan dan industri, serta kaca fotovoltaik untuk industri tenaga surya.
Investasi Kawasan Tembus 27 Miliar Dolar AS
Kawasan IWIP sendiri telah berkembang sejak 2018. Nilai investasi yang masuk ke sana mencapai sekitar 20 miliar dolar AS dan akan bertambah sekitar 7 miliar dolar AS, sehingga totalnya menjadi 27 miliar dolar AS.
Dari sisi tenaga kerja, kawasan ini disebut telah menyerap sekitar 117 ribu orang. Angka itu belum termasuk tambahan 10 ribu lapangan kerja yang akan tercipta dari 10 proyek terbaru.
Bagi Maluku Utara, tambahan investasi dan serapan tenaga kerja sebesar itu menjadi sinyal bahwa pusat pertumbuhan industri nikel tidak lagi terpusat di Jawa. Kawasan timur Indonesia kini masuk dalam peta rantai pasok global untuk baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Hilirisasi Jadi Tulang Punggung Industrialisasi
Rosan menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari industrialisasi nasional. Arah kebijakannya jelas: sumber daya alam jangan hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah lebih lanjut agar nilai tambahnya tertinggal di dalam negeri.
Strategi ini sejalan dengan target pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir. Nikel sebagai bahan baku baterai menjadi pintu masuk, lalu dikembangkan ke komponen turunan seperti separator, elektrolit, hingga aluminium elektrolitik yang dibutuhkan industri manufaktur.
Kehadiran proyek kaca fotovoltaik dan alat berat listrik juga menunjukkan hilirisasi mulai melebar ke sektor pendukung energi bersih, bukan hanya baterai. Artinya, kawasan industri seperti IWIP diproyeksikan menjadi klaster terintegrasi yang menampung berbagai lini produksi sekaligus.
Penutup: Dengan 10 proyek baru dan tambahan investasi 7 miliar dolar AS, IWIP memantapkan posisinya sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia timur. Bila seluruh proyek rampung sesuai jadwal, kawasan ini berpotensi menjadi tulang punggung rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional sekaligus mengubah lanskap ekonomi Maluku Utara dalam beberapa tahun ke depan.