Pencarian

1.316 Kali Karhutla Landa Kotim Sepanjang 2026, 2.122 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 08 Oktober 2026 • 10:03:32 WIB
1.316 Kali Karhutla Landa Kotim Sepanjang 2026, 2.122 Hektare Lahan Terbakar
Satgas Karhutla Kotim mencatat 1.316 kejadian kebakaran dengan 2.122 hektare lahan terbakar hingga 6 Oktober 2026.

Satgas Penanggulangan Karhutla Kotawaringin Timur mencatat 1.316 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total 2.122 hektare terdampak sejak Januari hingga 6 Oktober 2026. Status tanggap darurat yang ditetapkan sejak 30 Juli belum dicabut karena titik api masih muncul 18-20 kali per hari. Petugas mengandalkan pemadaman darat karena kabut asap menghalangi operasi helikopter water bombing.

SAMPIT — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, masih berlangsung hingga awal Oktober 2026. Data Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim mencatat 1.316 kejadian dengan luasan terbakar mencapai 2.122 hektare.

Angka tersebut dihimpun dari kejadian yang ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan satgas gabungan. Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim Rihel menyebut jumlah riil di lapangan bisa lebih besar karena lokasi yang tidak tertangani atau dipadamkan lewat water bombing belum masuk pendataan.

Lonjakan Titik Panas Terjadi Mulai Agustus

Peningkatan kejadian terjadi signifikan setelah musim kemarau masuk pada akhir Juli 2026. Jumlah hotspot yang terpantau melonjak dari 290 titik pada Juli menjadi 14.529 titik pada Agustus, lalu 23.686 titik pada September.

Pada Oktober, hingga awal bulan sudah tercatat 2.377 titik panas. Sebelumnya, Januari hanya mencatat 121 titik, Februari 2 titik, Maret 39 titik, April 22 titik, Mei 9 titik, dan Juni 34 titik.

"Artinya, sekarang sudah memasuki bulan ketiga, atau dua bulan lebih sedikit dari penetapan status tersebut. Dan kondisi karhutla saat ini masih relatif sama," kata Rihel di Sampit.

Petugas Jalan Kaki 4-7 Kilometer ke Titik Api

Sejumlah wilayah yang masih terbakar berada di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, dan Teluk Sampit. Medan yang jauh dari akses jalan membuat armada pemadam tidak bisa menjangkau titik api secara langsung.

Di Seranau, petugas harus berjalan kaki 4-7 kilometer sambil memikul peralatan pemadaman. Sumber air di sekitar lokasi juga sulit diperoleh sehingga petugas mengandalkan embung portabel.

"Kami harus berjalan kaki cukup jauh, bahkan 4-7 kilometer. Sumber air juga sulit sehingga harus menggunakan embung portabel, sedangkan peralatan pemadaman harus dipikul sambil berjalan," ujar Rihel.

Lahan Gambut Butuh 390 Liter Air per Meter Kubik

Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan gambut. Berdasarkan pengalaman lapangan, pemadaman gambut membutuhkan sekitar 390 liter air untuk setiap satu meter kubik lahan agar api tidak kembali menyala.

Kebutuhan air yang besar itu berbenturan dengan kondisi kekeringan. Petugas harus memastikan pasokan air cukup sebelum meninggalkan lokasi agar titik api tidak merembet kembali.

Kabut Asap Tahan Helikopter Water Bombing di Darat

Dukungan pemadaman udara belum bisa dimaksimalkan. Helikopter water bombing masih disiagakan di Bandara Haji Asan Sampit, tetapi jarak pandang akibat kabut asap membuat pesawat belum beroperasi optimal.

Rihel menerangkan helikopter butuh jarak pandang sekitar 4.500-5.000 meter untuk terbang aman. Kondisi di lapangan saat ini jarak pandang rata-rata di bawah 1.000 meter.

"Kalau visibility di bawah itu, mereka tidak mau terbang karena risikonya besar. Sungai atau sumber air juga sulit terlihat jika jarak pandang tidak mendukung," terangnya.

Setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB digelar rapat untuk menentukan kemungkinan pengerahan helikopter. Pesawat diterbangkan hanya jika jarak pandang memenuhi syarat keselamatan.

18-20 Titik Api Baru Terdeteksi Tiap Hari

Jumlah titik kebakaran harian masih berkisar 18-20 titik, dan pada kondisi tertentu bisa mencapai 30 titik. Angka itu belum menunjukkan penurunan berarti dibandingkan kondisi sebelumnya.

Tidak seluruh titik merupakan kebakaran baru. Sebagian lokasi lama yang kembali merembet atau meluas, sebagian lain masih dalam proses pendinginan tetapi tetap terdeteksi sebagai titik panas.

"Sebagian memang lokasi lama yang kemudian merembet, ada yang sedang pendinginan tetapi masih terdeteksi, dan sebagian lainnya memang masih menyala," ujarnya.

Luasan kebakaran harian rata-rata kurang dari satu hektare. Namun di Seranau, luas area yang terbakar belum bisa dipastikan karena medan dan kabut asap menyulitkan pemetaan dengan drone.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks