SAMPIT — Lonjakan permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kotawaringin Timur terjadi setelah PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax per 10 Juni 2026. Alih-alih mengurangi konsumsi, kebijakan tersebut justru memicu perpindahan massal pengguna kendaraan ke Pertalite yang harganya lebih terjangkau.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga wilayah Kotim, Seruyan dan Katingan, Lucky Harianto, mengungkapkan data permintaan menunjukkan anomali signifikan dalam dua bulan terakhir. Pada periode Juni hingga Juli, permintaan Pertalite meningkat 5 hingga 7 persen, sementara Pertamax mengalami penurunan hingga 26 persen.
"Memang semenjak adanya kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026, permintaan Pertalite meningkat sekitar 5 sampai 7 persen, sedangkan Pertamax mengalami penurunan sekitar 26 persen," ujar Lucky dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas komisi DPRD Kotim, Rabu (26/8/2026).
Antrean Tak Lagi Didominasi Pemilik Kendaraan Roda Dua
Memasuki periode Juli hingga Agustus, pola antrean justru berbalik. Pertamina mencatat permintaan Pertamax kembali menguat, sehingga antrean panjang kini tidak hanya terjadi di jalur pengisian BBM bersubsidi.
"Antrean tersebut sekarang sudah beralih ke Pertamax juga. Pertamax juga antre, terutama sepeda motor," kata Lucky.
Fenomena ini menunjukkan daya beli masyarakat yang masih fluktuatif. Sebagian pengguna sempat beralih ke Pertalite untuk menekan biaya operasional, namun kemudian kembali memilih Pertamax dengan pertimbangan performa mesin.
Stok Aman, Bukan Masalah Distribusi
Pertamina memastikan kelangkaan tidak terjadi di tingkat depot. Stok Pertalite di Depot Sampit tercatat 3.165 kiloliter dengan ketahanan sembilan hari, sedangkan Pertamax tersedia 1.189 kiloliter untuk tujuh hari ke depan.
Adapun stok Biosolar mencapai 3.637 kiloliter dengan ketahanan sekitar lima hari, sementara Pertamax Turbo sebanyak 951 kiloliter. Penyaluran ke seluruh SPBU berjalan normal sesuai kebutuhan masing-masing lokasi.
"Kami sudah distribusi dari Depot Sampit. Distribusi kami normal sesuai kebutuhan dari masing-masing SPBU," tegasnya.
Pembatasan Volume dan Modus Baru Pelangsir
Untuk mengurai kepadatan, Pertamina bersama operator SPBU menerapkan pembatasan volume pengisian. Kendaraan roda empat yang sebelumnya dapat mengisi hingga 40 liter kini dibatasi maksimal 30 liter, sedangkan sepeda motor dibatasi lima liter per transaksi.
Di sisi lain, Pertamina mengakui pengawasan terhadap praktik pelangsiran semakin sulit dilakukan. Modus yang digunakan pelaku kini tidak lagi mencolok, melainkan menggunakan kendaraan pribadi berpenampilan mewah.
"Pelangsir sekarang kondisinya bukan menggunakan mobil-mobil tangki lagi atau mobil-mobil yang jelek, tapi sudah menggunakan mobil-mobil bagus. Jadi tidak bisa terdeteksi apakah ini pelangsir atau masyarakat umum," ungkap Lucky.
Sistem kode batang (QR Code) yang diterapkan untuk penyaluran Pertalite dan Biosolar memang mencegah satu kendaraan mengisi berulang dengan identitas yang sama. Namun, pengawasan di luar area SPBU membutuhkan keterlibatan aparat penegak hukum karena petugas operator tidak memiliki kewenangan memeriksa kendaraan.
"Kalau barcode itu sesuai, plat nomor sama dan sesuai, kita tidak boleh menolak, tetap harus mengisi," pungkasnya.