SAMPIT — Sistem digital Pertamina dinilai telah menutup celah praktik pengisian BBM subsidi secara berulang dalam hari yang sama. Pernyataan ini mengemuka dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Kotawaringin Timur yang membahas keluhan masyarakat soal antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Rabu (26/8/2026).
Perwakilan pengelola SPBU, Nadiansyah, menegaskan mekanisme transaksi berbasis barcode yang berlaku saat ini membuat kendaraan tidak mungkin "bolak-balik" mengisi di hari yang sama. Saat barcode yang sama dipindai ulang, sistem langsung menolak transaksi.
"Kalau kendaraan masuk berulang menggunakan barcode yang sama, tidak akan bisa keluar minyaknya. Sistem otomatis akan memblokir dan transaksi ditolak," ujarnya di hadapan Komisi DPRD.
SPBU Tak Punya Dasar Menolak Kendaraan Terdaftar
Meski celah pengisian harian tertutup, Nadiansyah menyebut kendaraan yang diduga pelangsir masih bisa kembali keesokan harinya. Selama kendaraan itu terdaftar dan memenuhi ketentuan kuota pemerintah, SPBU tidak memiliki dasar hukum untuk menolak.
"Mau tidak mau kami layani, karena kami tidak punya kewenangan melarang orang yang sudah terdaftar dan memenuhi syarat untuk membeli BBM," katanya.
Penyebab Antrean: Bukan Kendaraan yang Sama, Tapi Jumlah Pembeli
Nadiansyah menilai anggapan bahwa antrean disebabkan kendaraan yang sama mengisi berulang kali sudah tidak relevan. Ia justru menyoroti meningkatnya jumlah kendaraan yang membeli BBM subsidi dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk Biosolar, misalnya, terdapat kesepakatan pengisian maksimal 80 liter bagi truk dan 40 liter untuk kendaraan kecil. Dengan volume penyaluran yang besar, satu SPBU bisa melayani ratusan kendaraan per hari.
Pasokan Hampir Terserap Habis Hingga Akhir Agustus
Data penyaluran di SPBU miliknya hingga 25 Agustus 2026 menunjukkan tingginya permintaan. Pertamina mengirimkan sekitar 336.000 liter Biosolar, dan lebih dari 330.000 liter telah tersalurkan.
Sementara untuk Pertalite, pasokan yang diterima mencapai 336.000 liter, namun realisasi penyaluran justru lebih tinggi, yakni sekitar 357.000 liter. Adapun Pertamax yang diterima sebanyak 168.000 liter dan tersalurkan lebih dari 173.000 liter.
SPBU Dukung Satgas Khusus untuk Awasi Pelangsir
Menghadapi situasi ini, pihak SPBU mendorong pemerintah daerah dan aparat penegak hukum membentuk kembali tim pengawasan atau satgas. Langkah ini dinilai perlu untuk menertibkan aktivitas pelangsiran yang diduga menjadi salah satu pemicu antrean.
"Kami sangat mendukung jika ada penertiban seperti dulu yang melibatkan aparat untuk melakukan pengawasan di lapangan," tegas Nadiansyah.
Selain itu, selisih harga yang cukup jauh antara BBM subsidi dan non-subsidi dinilai turut memicu peralihan pengguna. Sejumlah pemilik kendaraan yang sebelumnya memakai Dexlite atau Pertamina Dex disebut mulai beralih ke Biosolar dan Pertalite, sehingga menambah panjang antrean di SPBU Sampit.