Fenomena yang sempat digandrungi CEO startup teknologi sebagai cara mendorong inovasi—menggunakan token AI sebanyak mungkin tanpa batas—kini berbalik menjadi beban biaya. Istilah "tokenmaxxing" yang sempat menjadi tren di Lembah Silikon awal tahun ini perlahan ditinggalkan karena tagihan mulai jatuh tempo.
Kondisi ini menempatkan investor seperti Tiffany Luck, partner di NEA, pada posisi yang menarik. Ia kini berada di persimpangan antara euforia AI dan realitas bisnis: menghitung laba atas investasi teknologi mahal ini.
Dari Euforia ke Realitas: Tagihan AI Mulai Terasa
Uber menjadi contoh paling gamblang. Perusahaan ride-hailing itu menghabiskan anggaran AI setahun penuh hanya dalam beberapa bulan pertama, memaksa tim keuangan mencari pos anggaran lain untuk menambal kekurangan.
Meta mengambil langkah lebih drastis. Raksasa media sosial itu membunuh papan peringkat internal yang melacak penggunaan AI oleh karyawan—sebuah sinyal bahwa kompetisi tak terkendali dalam memakai model AI justru kontraproduktif.
Beberapa perusahaan lain memilih memotong lisensi Claude, produk AI buatan Anthropic, untuk sebagian divisi organisasi mereka. Langkah ini menunjukkan bahwa akses AI tak lagi dianggap sebagai hak seluruh karyawan, melainkan alat yang harus dioptimalkan berdasarkan kebutuhan bisnis.
NEA: Startup Justru Butuh Bantuan Lacak ROI AI
Di tengah situasi ini, Luck melihat celah bisnis baru. "Perusahaan masih mencari cara menghitung pengembalian investasi AI mereka," ujarnya dalam podcast TechCrunch's Equity bersama Rebecca Bellan.
Startup-startup rintisan mulai bermunculan untuk mengisi celah ini. Mereka menawarkan layanan pelacakan pengeluaran AI, mengukur efektivitas model, dan membantu perusahaan memutuskan kapan harus menggunakan AI atau solusi konvensional.
Luck, yang sebelumnya meyakinkan perusahaan bahwa e-commerce adalah masa depan, kini mengalihkan fokus penuhnya ke AI. Ia terutama tertarik pada potensi "momen ajaib" di bisnis konsumen—momen di mana AI memberikan pengalaman yang terasa personal dan bernilai tinggi bagi pengguna akhir.
IPO AI dan Masa Depan Personal Agent
Dalam kesempatan yang sama, Luck juga membahas prospek IPO perusahaan AI tahun ini. Ia menilai valuasi perusahaan AI publik masih dalam tahap penyesuaian, karena investor mulai lebih kritis terhadap metrik pendapatan dibanding sekadar pertumbuhan pengguna.
Soal agen pribadi berbasis AI—asisten digital yang bisa mengeksekusi tugas kompleks secara mandiri—Luck optimistis. Namun ia mengingatkan bahwa adopsi massal masih membutuhkan waktu, terutama karena kepercayaan konsumen dan akurasi sistem belum sepenuhnya matang.
Fenomena tokenmaxxing dan kontraksinya menjadi pelajaran berharga bagi ekosistem AI global, termasuk pasar Indonesia yang mulai gencar mengadopsi teknologi serupa. Perusahaan lokal yang tergiur efisiensi AI perlu mempertimbangkan biaya jangka panjang sebelum menerapkan kebijakan akses tak terbatas.