KALIMANTAN TENGAH — Alexia Putellas kembali masuk daftar favorit Ballon d'Or Wanita 2026 setelah memimpin Barcelona meraih quadruple, termasuk trofi Liga Champions ketiga dalam empat tahun. Dominasi pemain Spanyol dalam lima edisi terakhir kini diuji oleh sejumlah nama dari Inggris, termasuk Khadija Shaw dan Ewa Pajor.
Malam penganugerahan Ballon d'Or untuk pesepak bola wanita terbaik akan digelar Senin malam waktu setempat. Trofi paling bergengsi di sepak bola wanita itu kembali memunculkan pertanyaan lama: siapa yang mampu menghentikan hegemoni Spanyol?
Lima edisi terakhir trofi ini selalu jatuh ke tangan pemain Spanyol. Aitana Bonmati dan Alexia Putellas bergantian mengangkatnya, dan Putellas kini digadang-gadang meraih gelar ketiganya.
Pada Mei lalu, Putellas mengantar Barcelona meraih quadruple. Rinciannya: gelar Liga F ketujuh beruntun, trofi Liga Champions ketiga dalam empat tahun, plus dua gelar domestik lainnya.
Kapten tim nasional Spanyol itu mencatat 21 gol dan 13 assist sepanjang musim. Kontribusinya bukan cuma soal angka, tetapi juga kepemimpinan di ruang ganti tim yang sudah bertabur bintang.
Absennya Bonmati dari bursa tahun ini disebut murni karena cedera kaki serius yang dialaminya saat membela timnas pada November 2025. Tanpa sang rival utama, jalan Putellas memang terlihat mulus.
"Beri saja trofi itu kepadanya! Bersama Marta, dia pemain terbaik dalam sejarah. Tidak diragukan lagi dia yang terbaik musim ini, dan dia memenangi semuanya," kata pengamat sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport.
Spanyol mengirim delegasi terbesar ke daftar 30 kandidat, yakni enam pemain. Delapan dari starting XI Barcelona di final Liga Champions juga masuk bursa, termasuk striker Claudia Pina yang baru saja mencetak empat gol ke gawang Real Madrid, kiper Cata Coll, dan gelandang Patri Guijarro.
Kekuatan Barcelona di level klub dan timnas Spanyol di level internasional jadi alasan utama dominasi ini. Barcelona tampil di tujuh dari delapan final Liga Champions terakhir dan menjuarai Liga F setiap tahun sejak 2019-20 dengan selisih rata-rata 15 poin dari peringkat kedua.
Timnas Spanyol sendiri juara dunia 2023, runner-up Euro 2025 setelah kalah dari Inggris, lalu menjuarai Nations League pada Desember dengan mengalahkan Jerman di final.
Penantang paling serius datang dari Liga Inggris. Khadija Shaw mencetak 21 gol liga musim lalu untuk membawa Manchester City juara WSL pertama dalam satu dekade, plus lima gol tambahan di Piala FA.
Striker Jamaika itu menjadi top skor WSL tiga musim beruntun, mengoleksi 90 gol sejak bergabung pada musim panas 2021, dan diganjar kontrak empat tahun pada Juni. City mengirim lima pemain ke daftar kandidat, dari sebelumnya nol.
"Kami tidak punya turnamen besar, tapi ada banyak pemain hebat di daftar ini. Saya ingin melihat Shaw di posisi atas, pencetak gol yang brilian," ujar mantan pemain timnas Inggris, Ellen White.
Peluang Shaw dan kolega di City sedikit terganjal karena tidak tampil di Liga Champions musim lalu. Faktor kompetisi Eropa kerap jadi penentu dalam pemungutan suara.
Dari Arsenal, Alessia Russo finis kedua di bawah Shaw untuk urusan gol dan tampil impresif di Liga Champions dengan sembilan gol. Namun tersingkirnya Arsenal di semifinal oleh Lyon kemungkinan memotong peluangnya.
Kandidat lain yang layak diperhitungkan adalah Ewa Pajor. Penyerang Polandia itu mencetak 11 gol dalam 10 laga Liga Champions Barcelona, termasuk hat-trick di final melawan Lyon, dan meraih trofi Gerd Muller sebagai top skor.
Penghargaan ini mencakup periode 3 Agustus 2025 hingga 19 Juli 2026, dinilai dari performa individu, kolektif, dan fair play. Jurnalis internasional terpilih dari 50 negara peringkat teratas FIFA memberi peringkat 10 kandidat, lalu poin dihitung menurun.
Kritik yang masih mengemuka: tidak ada satu pun pemain dari National Women's Super League (NWSL) Amerika Serikat di daftar. Sebabnya, musim NWSL berjalan Februari sampai November sehingga beririsan dengan periode penilaian, sementara kompetisi Eropa selesai lebih awal.
Kritik soal jadwal acara yang jatuh di jeda internasional sudah terjawab musim ini karena seremoni digelar di tengah kalender domestik. Namun isu eurosentris dalam pemungutan suara belum sepenuhnya hilang.