Ritual Dewa Yadnya di Palangka Raya Hadirkan Tiga Tradisi Hindu, Gubernur Kalteng Harap Hujan Segera Turun

Penulis: Puguh Triyono  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:54:01 WIB
Ritual Dewa Yadnya digelar di IAHN Tampung Penyang Palangka Raya untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau.

PALANGKA RAYA — Upaya menghadapi musim kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya dilakukan melalui penanganan di lapangan. Ikhtiar tersebut juga diperkuat melalui doa dan kebersamaan masyarakat lintas agama serta tradisi.

Kebersamaan Lintas Tradisi dalam Satu Ritual

Ritual Dewa Yadnya yang digelar di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya ini memiliki keunikan tersendiri. Tiga tradisi Hindu yang berkembang di Kalimantan Tengah dihadirkan sekaligus, yakni tradisi Bali, Dayak Ngaju, dan Dayak Barito.

Perpaduan tersebut menjadi gambaran bahwa keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan. Ritual itu juga menjadi momentum memperkuat kepedulian bersama terhadap kondisi lingkungan di tengah musim kemarau.

Doa Harus Seiring dengan Aksi Nyata

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menegaskan doa merupakan bagian dari ikhtiar menghadapi musim kemarau. Namun, ia mengingatkan agar doa tersebut berjalan beriringan dengan tindakan nyata menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran.

"Semangat kebersamaan dalam kegiatan ini mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap kebaikan Kalimantan Tengah. Berbagai unsur hadir dengan niat dan harapan yang sama," tutur Agustiar.

Gubernur menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, BPBD, relawan, dunia usaha, dan masyarakat. Ia meminta pencegahan menjadi prioritas, termasuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

"Apabila menemukan potensi kebakaran atau titik api, segera laporkan agar dapat ditangani dengan cepat," tegasnya.

Tanggung Jawab Menjaga Kalteng Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Agustiar menyebut setiap elemen masyarakat memiliki peran sesuai kapasitas masing-masing dalam menjaga hutan, sumber air, dan lingkungan sekitar. Menurutnya, perlindungan hutan serta pencegahan kebakaran adalah tanggung jawab bersama.

"Setelah berbagai langkah dilakukan di lapangan, ikhtiar juga diperkuat melalui doa. Keduanya perlu berjalan beriringan dan saling melengkapi. Semoga doa yang disampaikan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, hujan segera turun, serta Kalimantan Tengah senantiasa mendapat perlindungan, keselamatan, dan keberkahan," pungkas Gubernur.

Apresiasi IAHN atas Dukungan Gubernur

Rektor IAHN Tampung Penyang Palangka Raya Tiwi Etika menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan Gubernur Agustiar Sabran terhadap pelaksanaan ritual tersebut. Ia menilai dukungan yang diberikan menunjukkan perhatian terhadap masyarakat dan lingkungan di Kalimantan Tengah.

"Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya adalah ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan bagi Kalimantan Tengah. Pelaksanaannya menjadi bagian dari upaya bersama menghadapi musim kemarau dan dampaknya," ujar Tiwi.

Ia menambahkan, dalam tradisi Hindu terdapat beragam tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Keterlibatan ketiganya menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan.

"Di mana pun berada, identitas dan tradisi harus tetap dijaga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat," terang Tiwi.

Ritual Dewa Yadnya dipimpin oleh Basir Tobbie Suswoyo dan dihadiri berbagai unsur masyarakat dari lintas tradisi dan kepercayaan.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: balanganews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top