KALIMANTAN TENGAH — Jakarta: Kongres Nasional Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) 2026 resmi dibuka di Ballroom The Darmawangsa Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mengusung tema "Refined Under Pressure: Elevating the Metallurgical Profession for the Next Decade", forum ini menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus penajaman peran profesi metalurgi dalam industri nasional.
Plt. Ketua Umum PROMETINDO, Dr. Ir. Muhammad Hanafi, memaparkan perkembangan organisasi sejak berdiri pada 2019. Kini tercatat sekitar 696 anggota aktif yang tersebar di berbagai sektor strategis.
Komposisi Anggota: Profesional Mendominasi
Kelompok profesional menjadi tulang punggung organisasi dengan 355 anggota atau 51 persen dari total. Sisanya berasal dari kalangan mahasiswa 153 anggota (22 persen), akademisi 104 anggota (15 persen), dan perwakilan pemerintah 84 anggota (12 persen).
Hanafi menilai keberagaman latar belakang itu sebagai modal penting membangun ekosistem profesi metalurgi yang kokoh.
"PROMETINDO hadir sebagai platform bagi para profesional untuk berkontribusi nyata pada sektor industri metalurgi. Keanekaragaman latar belakang anggota kami, mulai dari praktisi industri, akademisi, peneliti, hingga pemerintah, menjadi kekuatan utama dalam membangun ekosistem metalurgi yang solid," ujar Hanafi dalam pembukaan kongres, Sabtu (12/9/2026).
Mengapa Profesi Metalurgi Makin Dibutuhkan
Percepatan hilirisasi mineral menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang menguasai teknologi pengolahan dan pemurnian. Hanafi menyebut kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi tanpa kompetensi yang terus diperbarui mengikuti perkembangan industri.
PROMETINDO menetapkan visi menjadi asosiasi profesi yang berkontribusi langsung terhadap pengembangan peradaban dan peningkatan kesejahteraan umat manusia. Dua misi utama diusung: mengembangkan kompetensi anggota secara berkelanjutan, dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan regulasi serta kebijakan industri dan teknologi metalurgi.
Lima Fokus Agenda "Towards the Future of Metallurgy"
Memasuki fase pengembangan berikutnya, organisasi menetapkan lima fokus utama yang mencakup:
- Technology & Innovation
- Sustainability
- Collaboration
- Competency & Talent
- Industry Impact
Kelima aspek itu diarahkan untuk memperkuat kontribusi profesi metalurgi, baik dalam pengembangan teknologi maupun menjawab kebutuhan industri yang kian kompleks.
Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Penguasaan Teknologi
Hanafi menilai perkembangan industri metalurgi ke depan tidak hanya menuntut penguasaan teknologi, tetapi juga kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Profesional metalurgi dituntut beradaptasi dengan perubahan teknologi, tuntutan keberlanjutan, serta kebutuhan industri yang terus bergerak.
Karena itu, Kongres Nasional PROMETINDO 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum organisasi, melainkan menghasilkan agenda konkret bagi pengembangan profesi.
"Melalui Kongres Nasional 2026 ini, PROMETINDO berharap forum tertinggi organisasi ini dapat merumuskan program kerja konkret guna memperkuat peran dan daya saing ahli metalurgi Indonesia," demikian disampaikan dalam forum tersebut.
Penguatan kapasitas profesi ini dinilai semakin relevan di tengah transisi energi dan percepatan hilirisasi nasional. Kebutuhan terhadap teknologi pengolahan mineral yang lebih maju, efisien, dan berkelanjutan menempatkan ahli metalurgi sebagai salah satu kunci daya saing industri pengolahan Indonesia ke depan.