Pencarian

Hujan Belum Padamkan Karhutla Kotim, Satgas Catat 17 Titik Api dan Kabut Asap Makin Tebal

Selasa, 29 September 2026 • 09:30:02 WIB
Hujan Belum Padamkan Karhutla Kotim, Satgas Catat 17 Titik Api dan Kabut Asap Makin Tebal
Satgas Karhutla Kotim mencatat 17 titik kebakaran dalam sehari meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

Satgas Penanggulangan Karhutla Kotawaringin Timur mencatat 17 titik kebakaran dalam sehari meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim Rihel menyatakan hujan belum merata dan belum membasahi lapisan gambut, sehingga api masih merembet dan menyala kembali. Kabut asap di beberapa lokasi justru bertambah tebal karena curah hujan yang rendah hanya membasahi permukaan lahan.

SAMPIT — Hujan yang turun di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, belum menurunkan intensitas kebakaran hutan dan lahan. Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim masih mencatat rata-rata 13 hingga 17 kejadian per hari, dengan 17 titik kebakaran tercatat dalam sehari.

Rihel menyampaikan kondisi karhutla dalam beberapa hari terakhir relatif sama. Tidak ada titik kebakaran baru, tetapi api dari lokasi sebelumnya masih merembet atau kembali menyala. Jumlah kejadian bisa meningkat ketika kecepatan angin bertambah.

Luasan Terbakar Kecil, tapi Berada di Lahan Gambut

Luasan lahan yang terbakar dalam setiap kejadian umumnya kurang dari satu hektare. Meski terbilang kecil, lokasi kebakaran berada di lahan gambut sehingga membutuhkan penanganan lebih serius.

Ketebalan gambut di sejumlah wilayah Kotim berkisar satu hingga lima meter. Untuk membasahi satu meter kubik gambut dibutuhkan sekitar 390 liter air, dan kebutuhan itu meningkat menyesuaikan luas serta kedalaman lahan yang terbakar.

Hujan Turun Tidak di Titik Api

Sejumlah wilayah seperti Desa Rawa Sari, Ganepo, Mentawa Baru Ketapang, dan sebagian Baamang mendapat hujan. Lokasi kebakaran di Baamang Hulu hingga Kota Besi hanya menerima hujan dengan intensitas ringan.

"Walaupun ada hujan, tetapi tidak di tempat yang ada apinya. Di Baamang, misalnya, wilayah kota ada hujan agak deras, sedangkan di Baamang Hulu, daerah Banitan yang terbakar, hanya gerimis," ujar Rihel.

Hujan dengan intensitas rendah tidak hanya gagal memadamkan api. Air hanya membasahi bagian atas lahan, sedangkan bara api bertahan di lapisan bawah dan terus menghasilkan asap.

"Sebagian lokasi malah kabut asapnya bertambah tebal karena curah hujannya tanggung. Tidak sampai memadamkan kebakaran, hanya membasahi bagian atas, sedangkan di bawah masih terbakar sehingga menghasilkan asap," jelasnya.

Musim Hujan Datang Bertahap, Ancaman Belum Berakhir

Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan diperkirakan lebih dahulu memasuki wilayah utara Kotim pada dasarian II Oktober. Hujan bergerak bertahap ke wilayah tengah dan selatan hingga dasarian III November.

Artinya masih ada rentang waktu sekitar lima minggu sejak awal musim hujan di wilayah utara. Pergeseran musim itu juga membawa tantangan lain: wilayah utara yang lebih dulu diguyur hujan merupakan kawasan rawan banjir, sementara wilayah tengah dan selatan masih menghadapi potensi karhutla.

"Jadi meskipun hujan sudah mulai turun, kita tetap harus waspada. Selama hujan belum merata dan belum cukup membasahi gambut, potensi api untuk kembali menyala masih ada," kata Rihel.

Pemantauan titik api tetap diperlukan hingga hujan berlangsung merata dan mampu membasahi lahan gambut secara menyeluruh.

Follow kaltenginfo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks