KALIMANTAN TENGAH — Gugatan Apple terhadap pembocor rumor teknologi Jon Prosser kembali menemui hambatan prosedural. Dalam laporan status bersama yang diajukan ke pengadilan kemarin, raksasa Cupertino itu mengaku telah kehilangan kontak dengan kuasa hukum Prosser selama lebih dari sebulan, tepatnya sejak 6 Juli 2026.
Keterlambatan ini terjadi di tengah proses discovery—tahap di mana kedua belah pihak saling bertukar dokumen dan bukti sebelum persidangan. Apple menilai masih ada kekurangan dalam materi yang diserahkan Prosser, namun upaya komunikasi mereka tidak membuahkan hasil.
“Apple terakhir kali mendengar kabar dari kuasa hukum Tuan Prosser pada 6 Juli 2026, meskipun telah berulang kali mencoba menghubungi dan menindaklanjuti masalah discovery yang belum tuntas,” demikian bunyi dokumen pengadilan yang dikutip.
Kelahiran Anak Jadi Alasan Penundaan
Menjelang tenggat pengajuan laporan status, kuasa hukum Prosser akhirnya buka suara. Alasan yang disampaikan cukup personal: Prosser baru saja dikaruniai anak kedua dan sedang fokus mengurus bayinya yang baru lahir.
“Kuasa hukum Tuan Prosser menyatakan bahwa penundaan respons ini mungkin disebabkan oleh kelahiran anak kedua dan beliau sedang merawat bayi yang baru lahir,” lanjut isi laporan tersebut. Pihak pengacara berjanji akan segera mencari jadwal baru untuk melengkapi penyerahan bukti tambahan kepada Apple.
Laporan yang ditandatangani oleh pengacara Apple, Prosser, dan pihak ketiga Michael Ramacciotti ini mencatat bahwa Ramacciotti justru kooperatif. Ia setuju untuk menambah jawaban interogatori dan menjalani pemeriksaan kedua pada September mendatang. Sidang lanjutan dijadwalkan melalui laporan status berikutnya pada 7 Oktober 2026.
Akar Masalah: Pembocoran Desain Liquid Glass
Perkara ini bermula dari tuntutan Apple yang diajukan tahun lalu, tak lama setelah pengumuman iOS 26. Apple menuding Prosser dan Ramacciotti melanggar Undang-Undang Penyalahgunaan Komputer dan Penipuan (Computer Fraud and Abuse Act) serta menyalahgunakan rahasia dagang.
Keduanya dituding mengakses iPhone milik karyawan Apple yang digunakan untuk pengembangan, lalu memublikasikan konten di dalamnya—termasuk video yang mengungkap desain ulang antarmuka Liquid Glass—sebelum peluncuran resmi.
Ramacciotti disebut langsung memenuhi permintaan discovery dari Apple. Sementara itu, Prosser sempat gagal merespons gugatan secara formal, yang berujung pada penetapan default oleh pengadilan. Artinya, Prosser sempat kehilangan hak untuk melawan tudingan Apple, sebelum akhirnya dikabulkan permohonannya untuk membatalkan status tersebut pada Juni lalu.
Setelah status default dibatalkan, Prosser diwajibkan menyerahkan dokumen dan komunikasi terkait, plus menjalani deposisi (keterangan di bawah sumpah) pada 16 Juni 2026. Namun, sejak deposisi itu, proses kembali mandek.
Nasib Kasus dan Dampaknya ke Industri
Kasus ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi Apple dalam menindak para pembocor informasi produk. Alhasil, industri gadget yang kerap bergantung pada rumor untuk membangun antisipasi pasar kini mengamati ketat bagaimana pengadilan memperlakukan pembelaan pribadi seperti ini.
Bagi pengguna di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa informasi bocor yang beredar sebelum peluncuran resmi—termasuk yang sering dibahas di forum-forum lokal—bisa berujung pada konsekuensi hukum serius di negara asalnya. Meski begitu, keputusan akhir masih menunggu proses persidangan yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun ini.