PALANGKA RAYA — Jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur mengemuka, Soekarno telah lebih dulu merancang pusat pemerintahan baru di Palangka Raya. Konsep kota yang digagasnya bukan sekadar memindahkan administrasi negara, melainkan membangun pusat peradaban baru di tengah Pulau Kalimantan dengan desain yang meniru kemegahan Washington DC di Amerika Serikat.
Pakar tata kota dan penulis buku 'Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya', Wijanarka, mengungkapkan bahwa bentuk kota Palangka Raya dirancang menyerupai persegi panjang dengan luas mencapai 20 kilometer x 60 kilometer. Bentuk geometris ini bukan tanpa makna, melainkan merupakan filosofi mendalam dari budaya Dayak yang menyerupai Palangka Bulau, tempat suci dalam kepercayaan masyarakat setempat.
"Jadi bentuk persegi panjang itu dalam budaya dayak, itu menyerupai Palangka Bulau, makanya itu dinamai Palangka Raya, artinya adalah tempat yang suci, dilengkapi Raya yang artinya besar," kata Wijanarka saat ditemui di Palangka Raya.
Perencanaan kota ini juga mengadopsi kearifan lokal suku Dayak dalam membangun rumah, yaitu menancapkan tiang terlebih dahulu sebelum mendirikan bangunan. Prinsip ini kemudian diwujudkan dalam pembangunan Tugu Soekarno atau Tugu Tiang Pancang yang menjadi penanda awal berdirinya kota di Jalan S Parman.
Soekarno juga menginginkan Palangka Raya tampil modern dengan gaya arsitektur art deco, seperti yang terlihat pada bangunan perkantoran yang tidak bertiang. "Jadi pada saat tahun 1959 pada saat Bung Karno datang lagi ke sini, itu Bung Karno melihat kantor-kantornya agak monoton. Makanya disarankan untuk menambahi ornamen-ornamen tiang art deco itu supaya tidak monoton," sambungnya.
Sejarawan LIPI, Asvi Arwan Adam, menjelaskan bahwa ambisi besar Soekarno untuk memindahkan ibu kota ke Palangka Raya akhirnya terbengkalai karena Indonesia ditawari menjadi tuan rumah Asian Games pada 1960-an. Perhelatan olahraga internasional pertama yang diselenggarakan Indonesia ini memaksa pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur di Jakarta.
"Karena Bung Karno berfikir tidak mungkin diselenggarakan di kota baru, oleh sebab itu memutuskan di Jakarta, jadi dibangun stadion, Sarinah, hotel, dan patung selamat datang di HI," jelas Asvi. "Jadi persiapan Asian Games dan kemudian adanya ganefo menyebabkan wacana pemindahan ibu kota itu terbengkalai," sambungnya.
Meski gagasan ibu kota tidak terwujud, jejak Soekarno tetap abadi di Palangka Raya melalui Tugu Soekarno yang terletak di pusat kota. Pada 17 Juli 1957, Soekarno secara langsung menancapkan tiang pertama sebagai simbol dimulainya pembangunan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah di Desa Pahandut, tepian Sungai Kahayan yang menjadi cikal bakal berdirinya kota ini.
"17 Juli 1957 Pemantjangan Tiang Pertama Kota Palangka Raya Ibu Kota Propinsi Kalimantan Tengah Oleh: P.M.J Presiden RI Dr. Ir. Soekarno," demikian tertulis pada monumen bersejarah tersebut.
Konsep jalan utama Palangka Raya, khususnya Jalan Yos Sudarso, bahkan dirancang menyerupai National Mall di Washington DC dengan gaya polivium atau bundaran silang banyak yang menjadi favorit Soekarno. Keberadaan lahan gambut, danau, dan lahan kering yang mengelilingi kota semakin memperkuat kesan kota modern yang dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia.