SAMPIT — Proses panjang yang melibatkan pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan kalangan pengusaha akhirnya membuahkan hasil. Maskapai Super Air Jet (SAJ) dipastikan akan beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit dengan armada Airbus A320 pada 12 Juni 2026 mendatang.
Kepastian ini diperoleh setelah Area Manager SAJ bertemu langsung dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam agenda sosialisasi dan promosi penerbangan baru. Ketua Kadin Kotim, Susilo, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menyebut langkah ini sebagai kabar baik bagi dunia usaha dan masyarakat.
Menurut Susilo, masuknya SAJ bukanlah peristiwa yang instan. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai pihak terus berupaya membuka peluang agar maskapai baru bersedia melayani rute ke Sampit, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses penerbangan yang lebih kompetitif.
“Ini rangkaian panjang yang kami laksanakan bersama pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan pengusaha agar SAJ bisa terbang ke Sampit. Alhamdulillah, 12 Juni nanti menjadi penerbangan perdana,” ujar Susilo di Sampit, Jumat.
Salah satu dampak langsung yang diharapkan dari kehadiran Super Air Jet adalah terciptanya iklim persaingan yang sehat di sektor penerbangan. Selama ini, mahalnya harga tiket pesawat kerap menjadi keluhan utama masyarakat maupun pelaku bisnis yang harus bepergian ke luar daerah.
“Ini akan menjadi persaingan positif bagi dunia penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit dan diharapkan bisa mengurangi dampak mahalnya harga tiket,” tambah Susilo. Dengan lebih banyak pilihan maskapai, mobilitas orang dan barang diharapkan semakin lancar dan biaya perjalanan bisa lebih terkendali.
Susilo meyakini akses transportasi udara yang memadai menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor untuk menanamkan modal di Kotim. Bandara, pelabuhan, dan terminal adalah wajah pertama yang dilihat oleh tamu dari luar daerah sebelum menilai potensi ekonomi suatu wilayah.
“Harapan kami, kehadiran SAJ memberikan manfaat besar bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di Kotim. Karena citra daerah itu terlihat dari bandara, pelabuhan, dan terminalnya,” ucapnya.
Peningkatan konektivitas ini diyakini tidak hanya akan menggerakkan sektor perdagangan dan jasa, tetapi juga berdampak pada pariwisata, perhotelan, hingga usaha mikro yang bergantung pada mobilitas masyarakat dan pelaku bisnis.
Meskipun optimistis, Susilo mengingatkan bahwa faktor ketepatan waktu penerbangan menjadi krusial bagi dunia usaha. Konsistensi pelayanan akan menentukan kepercayaan penumpang dan kelancaran aktivitas bisnis di daerah.
“Kami berharap tidak hanya SAJ, tetapi nantinya semakin banyak maskapai yang hadir di Kotim. Itu akan menjadi simbol keberhasilan ekonomi daerah,” tegasnya.