Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mulai mengerahkan ekskavator untuk membuat sekat bakar di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Tjilik Riwut kilometer 7-8, Rabu (siang). Langkah ini diambil setelah titik api di lokasi tersebut bertahan selama sepekan terakhir dan sulit dijangkau pasukan darat.
SAMPIT — Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur tidak lagi hanya mengandalkan pasukan darat. Sejak Rabu siang, alat berat dikerahkan untuk membuka tanah menjadi sekat bakar di Jalan Tjilik Riwut kilometer 8 arah Sampit-Palangka Raya, sebuah kawasan yang disebut-sebut sebagai titik api dengan durasi terpanjang.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyatakan pembuatan sekat ini menyasar area yang intensitas kebakarannya tinggi dan berlangsung lama. "Mulai hari ini, kami mencoba melakukan sekat-sekat bakar pada daerah yang intens dan durasi panjang terjadinya kebakaran lahan dan hutan," ujarnya di Sampit, Rabu.
Target Satu Kilometer dan Harapan Munculnya Titik Air Baru
Pada tahap awal, pengerukan tanah ditargetkan mencapai sekitar satu kilometer. Pekerjaan ini dipantau langsung oleh Bupati, Wakil Bupati, Dandim, hingga Kapolres Kotim, dengan operator alat berat berasal dari Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRP).
"Kurang lebih sekitar satu kilometer kita coba per hari ini. Atas perintah para komandan untuk terus digerakkan alat ini," sebut Multazam.
Selain berfungsi sebagai pembatas laju api, parit yang terbentuk dari pengerukan ini diharapkan bisa menjadi sumber air cadangan. "Selain memberi sekat pada kebakaran, kami berharap di lubang yang dibuka itu ada titik-titik air baru yang bisa digunakan untuk pemadaman," jelasnya.
Enam Titik Kebakaran Masih Aktif, Tim Kewalahan
Kebutuhan akan strategi baru ini muncul karena kondisi di lapangan yang terus memburuk. Hingga pukul 12.50 WIB, BPBD mencatat ada enam titik kebakaran yang masih dalam penanganan. Beberapa titik api baru bahkan belum sempat dijamah karena personel masih berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Metode sekat bakar dinilai efektif berdasarkan pengalaman penanganan karhutla pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan api yang tertahan, pasukan darat mendapat ruang dan waktu lebih untuk memadamkan secara manual, lalu bergeser ke titik rawan lainnya.
"Semoga dengan kecepatan pasukan darat melakukan sekat-sekat bakar menggunakan air yang ada, kemudian kita bisa geser ke titik-titik rawannya," tutur Multazam.
Embung Kering Akan Diperdalam untuk Perkuat Pasokan Air
BPBD tidak berhenti pada pembuatan sekat bakar. Langkah lanjutan disiapkan untuk memperkuat ketersediaan air di kawasan rawan, salah satunya dengan membuka embung baru atau memperdalam embung lama yang saat ini kondisinya kering akibat musim kemarau.
"Kalau waktunya cukup, hari ini juga kita akan melakukan pembukaan embung-embung baru atau pendalaman embung-embung yang sudah lama yang sekarang posisinya sudah kering," demikian Multazam.