SAMPIT — Efektivitas pemadaman karhutla di lahan gambut disebut bisa meningkat hingga 35 persen dengan bantuan zat khusus, namun stok yang dimiliki BPBD Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini sangat minim. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan persediaan zat tersebut hanya cukup untuk dua kali operasi pemadaman di lapangan.
Keterbatasan ini membuat BPBD tidak bisa menyebar zat tersebut ke seluruh unit pemadam. Satu-satunya cara yang disiapkan adalah menempatkannya di satu tangki mobil pemadam agar bisa langsung dikerahkan saat muncul titik api yang mengancam pemukiman.
Menurut Multazam, zat tambahan yang dicampur ke air pemadam berfungsi mempercepat filtrasi air ke dalam pori-pori tanah. Dengan begitu, bara api yang membakar lapisan gambut di bawah permukaan bisa lebih cepat dijangkau dan dipadamkan.
"Kalau ada zat tambahan untuk pemadaman ini sebenarnya kita bisa hemat 30 sampai 35 persen, baik dari sisi waktu, kemudian sumber daya, bahan bakar tentunya nanti," kata Multazam, Jumat (28/8/2026).
Ia menambahkan, tanpa zat tersebut, api di lahan gambut seringkali sulit dipadamkan dari permukaan karena bara api terus membara di lapisan tanah yang lebih dalam. Air biasa cenderung sulit meresap jika lahan sudah kering dan porous.
Dengan sisa stok yang terbatas, BPBD Kotim memilih untuk tidak menggunakan zat tersebut secara sembarangan. Penggunaannya akan difokuskan pada lokasi karhutla yang membutuhkan penanganan cepat, terutama titik kebakaran yang berada di dekat permukiman warga.
"Nanti satu tangki kita coba taruh itu di unit itu, bisa dipergunakan pada saat-saat seperti ini," ujarnya.
Zat yang tersedia saat ini merupakan sisa bantuan tahun 2025. BPBD berencana melakukan uji coba kembali untuk memastikan efektivitasnya di lapangan sebelum mengajukan tambahan pasokan.
BPBD Kotim tidak tinggal diam dengan kondisi stok yang menipis. Multazam menyebut pihaknya terus berkomunikasi dengan Manggala Agni untuk mendapatkan tambahan pasokan melalui Kementerian Kehutanan.
"Kalau penelitiannya sudah membuktikan, nanti kita lihat ketersediaan. Karena ketersediaan ini juga jangan sampai bahan itu habis, sementara kebutuhan masih ada. Kami masih melakukan komunikasi lagi dengan teman-teman Daops Manggala Agni. Mudah-mudahan dapat bantuan lagi dari Kementerian Kehutanan," ungkapnya.
Karhutla di lahan gambut menjadi perhatian serius di Kotim setiap musim kemarau. Kabut asap yang ditimbulkan seringkali mengganggu aktivitas warga dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika penanganan tidak cepat dilakukan.