KALIMANTAN TENGAH — Manchester United tersingkir dari Carabao Cup setelah kekalahan memalukan dari Brighton, memicu boo dan apati dari pendukung di Old Trafford. Sorotan tajam mengarah ke Michael Carrick, namun Direktur Sepak Bola Jason Wilcox dinilai harus turut bertanggung jawab atas kebijakan transfer yang timpang. Kritik terhadap manajemen United semakin keras menjelang laga krusial melawan Fulham akhir pekan ini.
Kekalahan Manchester United dari Brighton di Carabao Cup menjadi pukulan terbaru bagi klub yang tengah dilanda ketidakpastian. Carrick dan para pemain menjadi sasaran cemoohan, sementara Jason Wilcox terlihat muram saat meninggalkan kotak direktur. Namun, pihak manajemen dan hierarki klub juga harus menerima tanggung jawab atas kondisi ini.
Kritik terhadap Kebijakan Transfer yang Dianggap Naif
Manajemen United menghabiskan £155 juta untuk tiga gelandang tengah pada jendela transfer musim panas lalu, sementara posisi lain justru terabaikan. Keputusan ini dinilai naif mengingat skuad membutuhkan variasi pemain di beberapa sektor, terutama lini belakang dan serangan.
Mendatangkan pemain dari sesama klub Premier League memang jarang menguntungkan secara finansial, tetapi ada logika untuk mempercepat adaptasi. Namun, dengan kekurangan di posisi bek kiri dan keterbatasan Joshua Zirkzee, mencari opsi gelandang yang lebih murah daripada Andrey Santos yang dibanderol £50 juta bisa jadi langkah yang lebih bijak.
Pengamat menilai pembelian Carlos Baleba sebagai rekrutan termahal belum bisa dinilai sepenuhnya karena atributnya diharapkan mampu mengatasi kurangnya mobilitas di lini tengah. Meski demikian, kebutuhan mendesak di posisi lain tetap menjadi celah yang belum tertutup.
Tekanan Meningkat Jelang Laga Kontra Fulham
Carrick kembali ke United pada Januari lalu, tetapi strategi jangka panjang klub justru dipegang oleh pihak lain. Tekanan terhadapnya semakin besar, dan kekalahan di Fulham pada akhir pekan nanti akan memperberat posisinya.
Para pendukung United menyadari bahwa tidak semua masalah di lapangan adalah kesalahan pelatih kepala. Boo yang terdengar di stadion lebih ditujukan pada performa buruk satu pertandingan, sementara apati mencerminkan kekecewaan terhadap gambaran besar klub.
United sempat unggul dua gol atas Brighton dalam 10 menit pertama, tetapi kemudian kalah dan nyaris tidak terlibat dalam permainan selama 80 menit sisa. Brighton yang tampil dengan banyak perubahan justru menunjukkan kedalaman skuad berkat perekrutan cerdas dari berbagai belahan dunia.
Rekrutmen dan Arah Klub dalam Sorotan
Brighton mendatangkan pemain dari klub di tujuh negara pada musim panas lalu, sementara United hanya melakukan empat akuisisi dari sesama klub Premier League. Pengambilan risiko yang terukur dan dinamisme menjadi bagian dari pekerjaan, tetapi jarang terlihat di Old Trafford.
Ironisnya, akuisisi paling sukses musim panas lalu justru Senne Lammens dari Royal Antwerp, baik dari segi harga maupun konsistensi penampilan. Hal ini kontras dengan pembelian mahal di lini tengah yang belum memberikan dampak signifikan.
Kekurangan skuad secara keseluruhan telah diakui secara internal, tetapi kurangnya variasi dalam penguatan dianggap sebagai keputusan yang naif. Dampaknya kini mulai terasa, terutama ketika Luke Shaw harus absen karena cedera dan Carrick harus menyusun rencana cadangan.
Bisunya Manajemen di Tengah Krisis
Wilcox pernah menjalankan tugas media internal pada 30 Oktober 2025 setelah tiga kemenangan beruntun, membahas rencana jangka panjang yang kemudian buyar setelah pemecatan Ruben Amorim dua bulan berselang. Namun, di tengah keterpurukan, ia enggan berbicara kepada publik.
Di Eropa, direktur olahraga berbicara kepada pers adalah hal biasa, tetapi Premier League belum mengadopsi kebiasaan itu. Sikap diam manajemen United semakin mencolok ketika tim kini berada di peringkat 13.
Wilcox bergabung dari Southampton pada 2024 sebagai direktur teknis dan ikut mengawal bertahannya Erik ten Hag setelah finis di posisi kedelapan. Ten Hag akhirnya diberhentikan karena awal musim yang buruk, lalu Amorim direkrut meski taktiknya tidak cocok dengan skuad yang ada dan minimnya dana untuk perombakan besar.
United mengakhiri musim di posisi ke-15 dan menelan kekalahan memalukan dari Tottenham di final Europa League. Setelah Amorim diberhentikan karena kekurangannya selama 14 bulan, Wilcox kembali diberi kesempatan untuk membenahi situasi.
Carrick tidak lepas dari kritik karena performa tim di bawah ekspektasi. Mengalahkan tim promosi Ipswich dan klub Azerbaijan Sabah tidak cukup menutupi awal musim yang mengecewakan. Lini belakang kebobolan tujuh gol dalam empat laga Premier League, dan duet Leny Yoro bersama Ayden Heaven tampil jauh dari memuaskan saat melawan Brighton. Lini serang pun terlihat tidak padu.
Wilcox dihormati saat menjabat sebagai kepala akademi Manchester City. Mereka yang pernah bekerja dengannya menilai pria itu luar biasa. Namun, di Old Trafford, hasil di lapangan dan kebijakan transfer yang dipertanyakan membuat posisinya ikut tertekan.