PALANGKA RAYA — Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat jarak pandang di wilayah itu tinggal 500 meter akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini terekam dari kawasan Sungai Kahayan, tempat dua perahu masih melintas meski pandangan terbatas, Sabtu (12/9/2026).
Kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas sungai. Kualitas udara Palangka Raya memburuk dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 960 pada 10 September 2026. Angka itu memaksa Dinas Pendidikan setempat menerapkan pembelajaran jarak jauh pada 11-12 September 2026.
Pembelajaran jarak jauh diberlakukan kembali setelah kualitas udara dinilai membahayakan kesehatan pelajar. Kebijakan ini menyusul ISPU yang menyentuh 960 pada 10 September 2026, jauh di atas ambang aman.
Keputusan tersebut berlaku untuk seluruh aktivitas pendidikan di Palangka Raya selama dua hari, 11-12 September 2026. Dinas Pendidikan setempat belum menyebut apakah kebijakan ini akan diperpanjang bila kabut asap belum surut.
Satgas darat dan udara terus memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah seiring meningkatnya titik panas. Hingga 5 September 2026, tercatat 96.658 hotspot dan 2.586 kejadian karhutla di provinsi itu.
Luas area terbakar mencapai 7.852,37 hektare. Angka ini menunjukkan skala kebakaran yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memicu kabut asap lintas wilayah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat karhutla hingga 29 September 2026. Kebijakan itu diberlakukan setelah kebakaran meluas dan kabut asap berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah.
Status tanggap darurat membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk mengerahkan sumber daya penanganan lebih besar, termasuk operasi udara dan darat. Hingga kini, satgas masih berjibaku memadamkan titik-titik api di sejumlah kabupaten.
Dengan jarak pandang 500 meter dan ISPU 960, aktivitas luar ruang di Palangka Raya berisiko tinggi bagi kesehatan pernapasan. Warga diminta memantau perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan kegiatan harian.
Kabut asap juga berdampak pada transportasi sungai yang menjadi jalur penghubung sebagian warga. Belum ada laporan resmi soal penutupan jalur, tetapi visibilitas terbatas menuntut kewaspadaan ekstra bagi pengguna perahu.