Relawan Pemadam Karhutla di Kotim Tumbang Kelelahan Usai Berjibaku 9 Jam Lebih, BPBD Minta Masyarakat Ikut Turun Tangan

Penulis: Surya Dinata  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:08:02 WIB
Relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur tumbang kelelahan setelah berjibaku memadamkan api selama lebih dari sembilan jam.

SAMPIT — Titik api yang bermunculan di belasan lokasi dalam sehari membuat satuan tugas karhutla Kotawaringin Timur bekerja di luar batas normal. Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengungkapkan personel di lapangan bisa berjibaku melawan api dan asap hingga belasan jam nonstop, sebuah kondisi yang tidak hanya menguras tenaga tetapi juga membahayakan keselamatan.

“Personel di lapangan berjibaku dengan api dan asap sampai 9 hingga belasan jam. Ini tentu sangat berat dan berdampak pada kondisi fisik. Semua berjuang tanpa kenal lelah,” kata Multazam dalam rapat evaluasi penanggulangan karhutla yang dipimpin Bupati Halikinnor.

Relawan Masjid Jami Kolaps Usai Padamkan Api di Dua Kecamatan

Salah satu korban kelelahan adalah Rizky Mubarrak, anggota relawan pemadam dari Masjid Jami, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pria yang selama ini aktif membantu berbagai kejadian kebakaran ini tumbang pada Rabu (19/8) malam dan harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit.

Sepanjang hari, Rizky berpindah dari satu titik api ke titik lainnya. Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, menuturkan relawan tersebut sempat menangani kebakaran lahan di Kecamatan Baamang dekat Semekto, lalu kembali lagi ke Jalan Kaca Piring Barat sebelum akhirnya kondisi tubuhnya menurun drastis.

“Kemungkinan karena di luar lokasi itu sangat besar asapnya, kemungkinan kelelahan,” ujar Irpansyah. Beruntung, setelah mendapat pertolongan medis, kondisi Rizky berangsur pulih dan kini dinyatakan stabil.

Gambut Menyala di Bawah Tanah, Satu Titik Bisa Berhari-hari

Multazam menjelaskan, karakteristik tanah gambut yang terbakar membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan setengah hati. Api yang menyala di dalam tanah kerap muncul kembali, memaksa petugas melakukan pemadaman berulang-ulang hingga api benar-benar mati. Kondisi inilah yang membuat durasi kerja di lapangan menjadi sangat panjang dan melelahkan.

Bahkan, tidak jarang pemadaman pada malam hari harus dihentikan sementara meski api masih menyala. Pertimbangannya murni keselamatan personel, mengingat lokasi yang gelap, sulitnya akses sumber air, dan fisik yang sudah kelelahan membutuhkan waktu istirahat.

Bupati Instruksikan OPD Kirim Tim, BPBD Minta Personel yang Benar-Benar Siap Tempur

Menindaklanjuti instruksi Bupati Halikinnor agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengirimkan tim pemadam, Multazam memberikan catatan tegas. Ia meminta setiap OPD mengirim personel pilihan yang benar-benar siap secara fisik dan mental, bukan sekadar memenuhi kuota.

“Kirim yang benar-benar bisa diandalkan di lapangan supaya mudah kolaborasi. Kirim orang yang benar-benar fight. Ini perlu fisik yang prima,” tegasnya.

Data Terbaru: 1.317 Hektare Lahan Hangus Tersebar di 17 Kecamatan

Berdasarkan catatan BPBD hingga 17 Agustus lalu, sudah terjadi 354 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1.317 hektare yang tersebar di 17 kecamatan. Angka tersebut diperkirakan terus bertambah mengingat pada Selasa (18/8) saja tercatat ada 22 lokasi kebakaran, dan keesokan harinya jumlahnya masih cukup banyak.

Multazam membantah anggapan bahwa petugas mengabaikan laporan masyarakat. Ia menegaskan, waktu yang dibutuhkan petugas untuk berpindah lokasi adalah karena mereka harus memastikan api di satu titik benar-benar padam terlebih dahulu. Karena itu, peran aktif warga untuk ikut memadamkan api di lingkungan sekitarnya dinilai sangat krusial.

“Makanya kami mendorong masyarakat juga terlibat langsung. Keterlibatan masyarakat sangat penting dan sangat diperlukan,” demikian Multazam.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top