Buku "Aku Cinta Budaya Dayak" Resmi Diluncurkan di Sampit, Bunda PAUD Kotim Siap Bagikan ke Seluruh TK

Penulis: Rendi Kusuma  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:19:31 WIB
Bupati Kotim Halikinnor meresmikan peluncuran buku "Aku Cinta Budaya Dayak" dalam acara Gebyar PAUD di Sampit, Kamis (20/8/2026).

SAMPIT — Kegelisahan akan minimnya pengenalan budaya Dayak di kalangan anak-anak melahirkan inisiatif baru di Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebuah buku referensi pembelajaran berjudul "Aku Cinta Budaya Dayak" diluncurkan untuk menjawab persoalan tersebut, tepat di tengah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Peluncuran berlangsung dalam acara Gebyar PAUD di salah satu pusat perbelanjaan modern di Sampit, Kamis (20/8/2026). Bupati Kotim, Halikinnor, turut hadir dan meresmikan langsung buku yang digagas oleh Bunda PAUD Kotim, Khairiyah Halikinnor, bersama Ketua IGTKI Kotim, Ros Ermawati ini.

Berawal dari Temuan di Lapangan

Ide penyusunan buku ini tidak muncul tanpa sebab. Khairiyah mengaku beberapa kali melakukan kunjungan ke sejumlah Taman Kanak-kanak (TK) dan menemukan fakta yang memprihatinkan: sebagian besar anak-anak belum familier dengan budayanya sendiri.

"Awalnya kami beberapa kali meninjau ke sekolah, khususnya di TK-TK. Mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Jadi kami berinisiatif untuk menciptakan buku ini, 'Aku Cinta Budaya Dayak'," ujarnya kepada wartawan di Sampit.

Materi dari Salam Hingga Rumah Betang

Buku ini dirancang khusus agar mudah dicerna oleh anak usia dini. Materi yang disajikan mencakup pengenalan dasar kebudayaan Dayak, mulai dari salam khas, pakaian daerah, makanan tradisional, hingga filosofi rumah betang dan kearifan lokal lainnya.

Yang menarik, penyusunan materi tidak hanya berhenti pada teori. Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas interaktif yang bertujuan menumbuhkan kreativitas, rasa ingin tahu, serta semangat belajar anak. Secara pedagogis, konten di dalamnya dirancang untuk mengasah kemampuan kognitif dan bahasa melalui pengayaan kosakata sederhana tentang budaya lokal.

Inovasi lain turut disematkan dalam buku setebal puluhan halaman ini. Setiap bagian materi dilengkapi dengan kode batang (QR Code) yang terhubung langsung ke media pembelajaran digital. Dengan begitu, proses pengenalan budaya tidak melulu lewat teks, tetapi juga bisa diakses melalui perangkat teknologi guna menarik minat generasi digital.

Proses Penyusunan Butuh Sembilan Bulan

Di balik peluncurannya, proses kreatif pembuatan buku ini terbilang panjang. Ros Ermawati menjelaskan, penyusunan hingga buku siap cetak memakan waktu sekitar sembilan bulan. Tim penyusun terlebih dahulu memetakan materi-materi pokok yang dianggap krusial untuk dikenalkan kepada anak usia dini.

"Jadi kita bersama Bunda PAUD memikirkan dulu ide-ide pokoknya, lalu mengembangkan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini," jelas Ros.

Setelah resmi diluncurkan, buku ini akan didistribusikan ke sekolah-sekolah TK di Kotim untuk dijadikan salah satu referensi utama pembelajaran muatan lokal.

Bupati: Anak Perlu Tahu Identitas Dasarnya

Bupati Kotim, Halikinnor, memberikan apresiasi tinggi atas terbitnya buku ini. Menurutnya, pengenalan budaya Dayak sedari dini menjadi krusial di tengah derasnya arus perkembangan zaman yang membuat anak-anak semakin jauh dari bahasa dan budaya daerahnya.

Halikinnor menilai, anak-anak setidaknya perlu memiliki bekal pengenalan identitas dasar, seperti bagaimana bentuk pakaian adat perempuan dan laki-laki Dayak, hingga tata cara adat istiadat di lingkungan masyarakat.

"Minimal anak-anak mengenal bagaimana itu baju orang Dayak perempuan atau laki-laki, begitu juga adat istiadatnya. Jadi, dari sejak usia dini ini diperkenalkan," katanya.

Orang nomor satu di Kotim itu berharap kehadiran buku ini mampu menjadi benteng budaya di tengah gempuran teknologi dan perubahan lingkungan sosial. Ia juga menyampaikan terima kasih sekaligus apresiasi kepada para penulis atas dedikasi mereka melestarikan warisan leluhur.

"Terima kasih, apresiasi untuk Bunda PAUD dan Ketua IGTKI Kotim yang menciptakan buku ini. Supaya anak-anak kita minimal mengenal secara dasar, apa itu budaya adat Dayak," tutup Halikinnor.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top