KALIMANTAN TENGAH — Dua bulan setelah laga terakhir 16 besar Piala Dunia 2026 yang berakhir dengan kekalahan 1-4 dari Belgia, RBFA masih memburu klarifikasi. Yang mereka pertanyakan bukan hasil pertandingan, melainkan keputusan aneh yang membebaskan Balogun dari skorsing.
Kronologi Kontroversi: Kartu Merah yang Dibatalkan
Balogun, striker Timnas AS, diganjar kartu merah langsung di laga sebelumnya. Hukuman satu pertandingan yang seharusnya dijalaninya di babak gugur mendadak ditangguhkan setahun penuh oleh FIFA.
Keputusan ini memicu kritik luas, terutama setelah terungkap adanya lobi dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat Gedung Putih ke FIFA. Balogun pun tampil sebagai starter di laga melawan Belgia.
Dua Alasan Belgia Menolak Infantino
Presiden RBFA, Pascale van Damme, menegaskan pihaknya sudah tidak bisa tinggal diam. Dalam pernyataan resmi Senin (14/10), ia menyebut kasus Balogun menjadi salah satu alasan utama untuk tidak mendukung pencalonan kembali Infantino sebagai presiden FIFA pada Maret mendatang.
"Dua bulan setelah kejadian, pertanyaan kami masih belum terjawab," ujar Van Damme. "Mengingat pentingnya transparansi bagi semua pihak, kami meminta penjelasan yang diperlukan dan ingin mengeksplorasi perbaikan proses agar kasus serupa bisa ditangani dengan jelas dan konsisten di masa depan."
Selain kasus Balogun, RBFA juga mempersoalkan rencana FIFA yang sempat ingin menjual saham kompetisi, termasuk Piala Dunia, ke perusahaan investasi swasta. Rencana tersebut kini telah dibatalkan.
Dari 189 Kartu Merah, Hanya Dua yang Dianggap Bisa Ditangguhkan
Kartu merah Balogun tercatat sebagai yang ke-189 dalam sejarah Piala Dunia. Namun, ini baru kali kedua setelah Garrincha pada 1962, seorang pemain tidak menjalani skorsingnya.
FIFA sendiri tidak pernah memberikan penjelasan gamblang. Mereka hanya merujuk pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang mengizinkan penangguhan sebagian atau seluruhnya atas implementasi sanksi. Tidak ada satu pun skorsing lain yang dicabut sepanjang Piala Dunia 2026.
Tekanan untuk Infantino Kian Menumpuk
Infantino, yang menjabat sejak 2016, mengonfirmasi akan maju lagi dalam pemilihan Maret. Namun, dukungannya semakin tipis. Belgia menjadi federasi terbaru yang bergabung dengan daftar panjang penolak kepemimpinannya.
RBFA menegaskan komitmennya untuk tetap terbuka pada kerja sama konstruktif demi kepentingan integritas sepak bola. "Bersama UEFA, konfederasi lain, dan asosiasi nasional, kami berkomitmen pada transparansi dalam pengambilan keputusan dan tata kelola yang kuat," tutup Van Damme.