Dishub Kotim Sebut Wacana Bandara Baru di Ujung Pandaran Perlu Kajian Panjang, Fokus Kini Pengembangan Bandara Haji Asan

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:46:01 WIB
Kepala Dishub Kotim Raihansyah menyampaikan wacana pembangunan bandara baru di Ujung Pandaran masih memerlukan kajian panjang.

SAMPIT — Usulan membangun bandara baru di Ujung Pandaran muncul setelah kabut asap karhutla melumpuhkan aktivitas Bandara Haji Asan Sampit di Kecamatan Baamang. Pekatnya asap membuat jarak pandang tak memenuhi standar keselamatan penerbangan, sehingga sejumlah pihak mendorong pemerintah mencari lokasi alternatif di kawasan pesisir.

Raihansyah menyampaikan pandangannya menanggapi usulan Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur yang meminta pemerintah mengkaji ulang kemungkinan pembangunan bandara di Ujung Pandaran. Menurut dia, ide tersebut masuk akal dari sisi mitigasi asap, namun tidak cukup jadi dasar penetapan lokasi.

Mengapa Pesisir Ujung Pandaran Dianggap Lebih Aman dari Asap

Ujung Pandaran berada di Kecamatan Teluk Sampit, wilayah pesisir selatan Kotim yang berhadapan langsung dengan laut. Raihansyah menyebut angin laut membuat kawasan itu tidak terlalu terdampak kabut asap karhutla dibanding Baamang, lokasi Bandara Haji Asan sekarang.

"Ide untuk pemindahan bandara itu sebenarnya bagus karena di Ujung Pandaran kita tidak terlalu terdampak asap karena angin laut. Tapi yang namanya pembangunan sebuah bandara itu perlu kajian yang panjang," katanya, Sabtu (17/10/2026).

Meski begitu, ia menegaskan penetapan lokasi bandara tidak bisa hanya bersandar pada kondisi bebas asap. Diperlukan kajian dari pihak berkompeten untuk memastikan lokasi memenuhi persyaratan teknis penerbangan.

Arah Angin hingga Cuaca Jadi Pertimbangan Teknis

Dishub Kotim menyoroti sejumlah aspek yang harus diuji sebelum Ujung Pandaran ditetapkan sebagai calon lokasi. Mulai dari arah angin dominan, kondisi cuaca sepanjang tahun, hingga prosedur keselamatan penerbangan yang menjadi kewenangan otoritas penerbangan sipil.

Kajian tersebut, menurut Raihansyah, memakan waktu panjang dan melibatkan instansi di luar pemerintah daerah. Ia tidak menyebut perkiraan durasi maupun anggaran untuk studi kelayakan tersebut.

"Memang kalau sesuatu itu berawal dari mimpi bisa kita coba, karena kajiannya sangat panjang untuk memindahkan bandara. Saat ini kita fokus pengembangan bandara yang ada," tegasnya.

Pengembangan Bandara Haji Asan Jadi Prioritas Saat Ini

Alih-alih mengejar pembangunan bandara baru, Dishub Kotim memilih merampungkan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit. Pekerjaan yang sedang berjalan berupa pembangunan pagar pada sisi barat bandara.

Setelah pagar rampung, pengembangan dijadwalkan berlanjut dengan perpanjangan landasan pacu pada 2027. Rencana berikutnya mencakup pemindahan gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK).

Sejumlah tahapan itu disebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas Bandara Haji Asan tanpa harus membangun fasilitas baru di lokasi lain. Pemerintah daerah belum memutuskan apakah wacana Ujung Pandaran akan masuk dalam rencana induk transportasi udara Kotim.

Rudianur sebelumnya mendorong kajian ulang atas usulan tersebut menyusul lumpuhnya aktivitas penerbangan di Sampit akibat asap. Usulan itu kini berada di tangan pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti melalui studi kelayakan yang melibatkan otoritas penerbangan.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top